Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Sebanyak 674 peserta mengikuti latsarmil untuk membangun karakter integritas, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, dan empati yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas sebagai manajer KDMP.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan memakan korban jiwa. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pertahanan, korban meninggal kini mencapai lima orang.
Penyebab medis meninggalnya kelima calon manajer kopdes itu beragam, mulai dari henti jantung, heat stroke, komplikasi tuberkulosis (TB), hingga pneumonia dengan komplikasi hipertensi dan obesitas. Menanggapi hal ini, dokter sekaligus Humas Pengurus Pusat Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Dany Azzam Ardian, menekankan pentingnya menyesuaikan latihan dengan kemampuan peserta yang didasarkan pada hasil assessment awal. Mengingat peserta merupakan warga sipil, dr Azzam menyarankan agar materi latihan menghindari aktivitas fisik berat secara mendadak terutama pada cuaca panas.
Selain itu, penyelenggara juga wajib menyediakan waktu istirahat yang memadai. Lalu memastikan peserta mendapat hidrasi yang cukup, melakukan pemantauan terhadap tanda-tanda bahaya, serta menyiagakan tenaga medis beserta prosedur evakuasi apabila terjadi kondisi darurat.
"Peserta yang memiliki komorbid atau belum bugar juga sebaiknya mendapatkan program latihan yang dimodifikasi," kata dr Azzam saat dihubungi Republika, Senin (29/6/2026).
Ia juga menilai pelaksanaan latihan fisik dengan intensitas tinggi perlu didahului dengan skrining kesehatan yang komprehensif. Hal ini penting supaya risiko kematian dapat diminimalkan.
Menurut dr Azzam, idealnya peserta menjalani medical check-up prapartisipasi yang meliputi wawancara riwayat penyakit, pemeriksaan fisik lengkap dan tanda vital, pemeriksaan jantung minimal dengan elektrokardiogram (EKG). Adapun jika aktivitas fisik yang akan dijalani memerlukan tingkat kebugaran yang tinggi, pemerikaan dapat dilanjutkan dengan treadmill test.
"Peserta juga harus menjalani pemeriksaan rontgen paru, pemeriksaan laboratorium dasar seperti darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, serta penilaian kebugaran fisik secara bertahap. Bila ditemukan penyakit seperti hipertensi tidak terkontrol, penyakit jantung, infeksi aktif seperti tuberkulosis, atau kondisi medis lain yang meningkatkan risiko, peserta sebainya ditunda mengikuti pelatihan hingga dinyatakan aman," kata dr Azzam.
.png)
4 hours ago
3














































