Ledakan Pipa Gas di Rokan Hilangkan Produksi Minyak 2 Juta Barel

1 month ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa ledakan pipa gas tanam milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di wilayah Rokan, Riau, menyebabkan hilangnya produksi minyak sekitar 2 juta barel pada awal tahun ini.

“Kami laporkan bahwa pada awal tahun ini kami mengalami musibah kecil di Sumatera. Pipa kami bocor, sehingga potensi kehilangan produksi minyak sekitar 2 juta barel di awal tahun,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Meski menyebut peristiwa tersebut sebagai musibah, Bahlil menegaskan ledakan pipa gas merupakan kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, ia memastikan akan menjatuhkan sanksi kepada pejabat di lingkungan Kementerian ESDM maupun badan usaha milik negara (BUMN) terkait.

“Saya akan langsung memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait,” kata Bahlil.

Ledakan pipa gas milik PT TGI sebelumnya menimbulkan kebakaran hebat di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada Jumat (2/1). Akibat kejadian tersebut, sebanyak 10 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara tiga kendaraan dan sejumlah bangunan turut terbakar.

Selanjutnya, Kepala Kepolisian Resor Indragiri Hulu (Inhu) AKBP Fahrian Saleh Siregar menyampaikan bahwa ledakan pipa gas kembali terjadi pada Jumat (9/1) dini hari di Desa Tani Makmur, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemulihan aliran gas di Rokan telah menjadi perhatian langsung Menteri ESDM. Aliran gas tersebut kini mulai berangsur pulih.

“Sudah mulai mengalir sejak beberapa hari lalu, tetapi alirannya kami tambahkan secara bertahap. Tidak langsung maksimal, karena sudah dua kali terjadi ledakan, sehingga kami tetap menjaga alirannya,” ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut Laode, penahanan aliran gas tidak dilakukan terlalu lama karena berpengaruh terhadap produksi minyak. Pada 2026, Kementerian ESDM menargetkan lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari, meningkat sekitar 5 ribu barel per hari dibandingkan target 2025.

Untuk menutup kehilangan produksi akibat insiden tersebut, Kementerian ESDM menargetkan penambahan produksi sekitar 5 ribu hingga 6 ribu barel per hari.

Ia memperkirakan produksi minyak di wilayah Rokan akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |