Kolaborasi Perdana, Prambanan Jazz Festival x Rockologist Hadirkan 'Kala'

14 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Prambanan Jazz Festival (PJF) untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan brand perhiasan asal Yogyakarta, Rockologist, menghadirkan lini merchandise bertajuk 'Kala'. Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan cinderamata eksklusif selama festival berlangsung, tetapi juga menjadi langkah awal pengembangan merchandise resmi yang akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Founder Rockologist, Muhammad Arsy, mengatakan Kala merupakan sub-brand yang lahir dari kolaborasi antara Prambanan Jazz dan Rockologist. Kehadiran Kala disebutnya, juga menjadi bagian dari rencana besar Prambanan Jazz untuk menghadirkan concept store yang menjual berbagai memorabilia resmi festival dan Rockologist menjadi salah satu mitra pertama yang diajak mewujudkan gagasan tersebut.

"Kala ini sebuah sub-brand yang akan terus ada ke depannya. Entah itu di Prambanan Jazz 2026, 2027, bahkan bisa dibeli di luar masa konser saja," ujarnya saat dijumpai Republika di Booth Merchandise Prambanan Jazz Festival 2026, Ahad (5/7/2026), malam.

"Ini adalah salah satu langkah yang akan diambil oleh Prambanan Jazz untuk mulai membuat concept store. Jadi tidak hanya event saja, Prambanan Jazz ingin punya sebuah tempat di mana orang bisa beli memorabilia atau produk-produk yang dibuat oleh Prambanan Jazz sendiri atau berkolaborasi dengan talent maupun brand," katanya menambahkan.

Arsy menyampaikan, kolaborasi ini bermula dari hubungan baik antara Founder Rockologist dengan General Manager Prambanan Jazz. Dari berbagai diskusi, muncul gagasan untuk menciptakan produk yang mampu membawa pulang kenangan tentang festival sekaligus memperkenalkan nilai budaya Prambanan kepada masyarakat.

Meski Rockologist dikenal sebagai brand perhiasan, pihaknya melibatkan berbagai artisan dari beragam disiplin agar koleksi Kala tidak terbatas pada produk berbahan logam.

"Karena memang basis kami di jewelry, tapi kami senang merangkul berbagai artisan. Jadi kita bisa bikin kipas, tikar, tali, dan produk lainnya. Tidak harus selalu jewelry," katanya.

Ada tujuh produk yang menjadi seri pertama Kala dan nantinya akan terus berkembang menjadi berbagai koleksi baru. Ketujuh produk tersebut antara lain charm, bracelet, Tilaka Brooch, Sela Mat berbahan rotan, kipas, earplug untuk meredam suara saat menikmati konser, serta Jantra Cord, aksesori multifungsi yang dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan.

Dari ketujuh itu, Arsy mengatakan salah satu produk yang paling eksklusif adalah Tilaka Brooch, lantaran hanya diproduksi sebanyak 100 buah. Setiap brooch memiliki nomor seri khusus di bagian belakang sebagai penanda edisi terbatas.

"Kita ingin membuat sebuah seri produk yang bisa dibeli dan membuat orang mengenang Prambanan Jazz sebagai festival musik, juga Prambanan sebagai cultural heritage yang bisa dibawa pulang dan diceritakan kepada orang lain, terutama mereka yang datang dari luar Jogja," ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa selama tiga hari penyelenggaraan Prambanan Jazz 2026, respons pengunjung terhadap Kala sangat positif. Arsy menyebut sejumlah produk bahkan telah habis terjual meski promosi dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

"Untuk Kawitan Chains sudah sold out. Produk lain juga tinggal sedikit. Padahal kami baru mulai memperkenalkan Kala malam sebelum festival dimulai dan bahkan di hari pertama masih belum masuk katalog resmi. Dengan kondisi seperti itu saja menurut saya antusiasme pengunjung sangat bagus," ujarnya.

Setelah festival berakhir, seluruh produk Kala akan tetap dipasarkan melalui sistem pre-order terbatas hingga concept store Prambanan Jazz resmi beroperasi. Ke depan, produk tersebut juga direncanakan tersedia di concept store Prambanan Jazz maupun gerai Rockologist. Arsy berharap Kala nantinya mampu berdiri sebagai sebuah brand yang memiliki identitas sendiri, bahkan melampaui statusnya sebagai merchandise festival.

"Saya berharap Kala dapat berdiri sendiri sebagai sebuah brand dan intellectual property sendiri yang memang dibuat oleh Rockologist dan Prambanan Jazz. Ketika orang mulai mengenal siapa Kala, kenapa dia tampak garang tetapi menjadi penjaga di setiap pintu candi, mereka akan memahami filosofi yang dimilikinya," ujarnya.

Alasan ikon Kala dipilih

Di balik koleksi merchandise terbaru Prambanan Jazz Festival, ternyata tersimpan proses kreatif yang berangkat dari riset mendalam terhadap warisan budaya Candi Prambanan. Creative Director Rockologist, Irfan Maulana menjelaskan sosok Kala dipilih karena memiliki filosofi sebagai penjaga gerbang sekaligus simbol perjalanan dari energi buruk menuju energi yang lebih baik.

Kemudian filosofi tersebut diolah menjadi identitas utama dalam tujuh produk merchandise yang diluncurkan pada festival tahun ini.

"Kala sendiri inspired-nya dari ikon yang ada di pintu candi. Itu menggambarkan proses transisi dari luar ke dalam, dari energi buruk menuju energi yang baik. Dari situ kemudian kami kembangkan menjadi berbagai aksesori," kata Irfan.

Menurut Irfan, sebelum menentukan tujuh produk tersebut, tim kreatif sebenarnya mengusulkan lebih banyak konsep. Namun setelah melalui proses kurasi bersama Prambanan Jazz, dipilih tujuh produk sebagai koleksi perdana Kala. "Untuk produknya itu kita memberikan suggestion kepada Prambanan Jazz. Sebenarnya ada lebih dari tujuh, kemudian yang dikurasi tujuh tersebut," katanya.

Tak hanya menghadirkan produk, setiap desain juga memiliki makna tersendiri. Irfan menjelaskan pada koleksi charm misalnya, terdapat sembilan desain berbeda yang terinspirasi dari kepala Kala, bebatuan Candi Prambanan, hingga eksplorasi bentuk dengan lilitan tali dan bunga. Sementara Tilaka Brooch mengambil inspirasi dari bagian mata Kala. Namun bentuknya dibuat lebih artistik agar tidak terlalu literal dan tetap fleksibel digunakan sebagai aksesori.

"Memang dibuat lebih eksploratif agar tidak terlalu Kala semua. Jadi bentuknya fleksibel dan artistik," ujarnya.

Sementara desain pada produk lainnya memadukan elemen air dan bunga waru yang banyak ditemukan di kawasan Prambanan. Menurut Irfan, unsur tersebut dipilih untuk menghadirkan kesan dinamis yang berpadu dengan karakter bebatuan candi.

"Untuk bunga warunya sendiri ada kaitannya dengan pelataran Prambanan. Kemudian untuk airnya itu biar lebih dinamis. Karena ikon yang ada di situ hadirnya dari bebatuan, jadi kami hadirkan unsur air sebagai penyeimbang," kata dia.

Terkait harganya, produk Kala dipasarkan dengan harga mulai Rp 60 ribu hingga Rp 402 ribu. Ke depan karakter Kala tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan menjadi berbagai produk baru, seperti boneka, bantal, hingga koleksi lainnya, sehingga semakin memperkuat posisinya sebagai ikon baru yang lahir dari kolaborasi Prambanan Jazz dan Rockologist.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |