Jumlah Tentara Zionis yang Bunuh Diri Terus Melonjak

4 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Jumlah tentara pasukan penjajahan Israel yang mati bunuh diri terus melonjak. Pada April ini saja setidaknya 8 tentara dan petugas polisi Israel tewas akibat bunuh diri.

Investigasi Haaretz yang diterbitkan pada Ahad mengungkapkan peningkatan tajam angka bunuh diri di kalangan militer dan pasukan keamanan Israel, dengan setidaknya 10 tentara aktif melakukan bunuh diri sejak awal tahun 2026, termasuk 6 tentara pada bulan ini saja. 

Pada bulan April, 8 tentara dan personel polisi yang bertugas aktif meninggal karena bunuh diri, bersama dengan 3 tentara cadangan yang ikut serta dalam genosida di Gaza, dan 2 petugas polisi, yang menandai peningkatan yang signifikan.

Hareetz sebelumnya juga melaporkan, kejahatan yang dilakukan tentara IDF jadi salah satu luka mental dan moral yang memicu depresi pada pasukan Israel. Sejumlah tentara dilaporkan mengalami trauma moral akut setelah melihat anak-anak dibunuh tentara Israel dengan keji di Gaza, orang tua dihabisi, dan warga dilindas dan dikubur dengan buldozer.

Tren bunuh diri ini terus meningkat secara luas sejak 7 Oktober 2023, ketika rezim Israel memulai serangan genosida di Gaza, dengan 7 kasus bunuh diri aktif pada akhir tahun 2023, 21 kasus pada tahun 2024, dan 22 kasus pada tahun 2025; angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Kasus tambahan mencakup setidaknya 15 mantan tentara yang meninggal karena bunuh diri setelah dipulangkan pada akhir 2025, dengan setidaknya 4 kasus lagi sejak itu, termasuk 3 kasus dalam sebulan terakhir.

Dalam laporan sebelumnya yang terbit pada akhir 2025, sebanyak 279 tentara Israel mencoba melakukan bunuh diri sejak awal tahun 2024 hingga Juli 2025 menurut laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset. Setidaknya 13 tentara juga meninggal karena bunuh diri di luar wajib militer karena masalah psikologis.

Laporan tersebut menghubungkan lonjakan tersebut dengan meningkatnya tekanan psikologis akibat genosida yang berkepanjangan di Gaza, berkurangnya sistem pendukung, dan kegagalan sistemik.

Sumber daya kesehatan mental dilaporkan telah menurun, dengan program dekompresi psikologis untuk tentara cadangan dibatalkan atau hanya sebagian yang dipekerjakan kembali, dan beberapa tentara diberhentikan tanpa menemui ahli kesehatan mental. 

Sumber juga menyebutkan berkurangnya kehadiran petugas kesehatan mental di lapangan, tekanan dari komandan untuk terus bertugas, dan kasus tentara yang tidak sehat secara psikologis dikerahkan tanpa evaluasi yang tepat.

Jumlah tentara yang menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang parah telah meningkat sebesar 40 persen sejak tahun 2023, kata sumber di militer Israel.

Pada 2024 dan 2025, setidaknya 75 persen persen dari seluruh kasus bunuh diri di kalangan warga Israel adalah tentara yang kembali dari genosida di Gaza, menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Times of Israel.

Sejak dimulainya genosida di Gaza, rezim Israel telah membunuh sedikitnya 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak.

Pada Oktober 2025, Kepala Staf Israel Eyal Zamir mengakui krisis kesehatan mental yang memburuk di kalangan tentara, dan mengatakan ribuan tentara menerima perawatan psikologis. Dia mendesak para komandan untuk tetap waspada, mendeteksi masalah kesehatan mental di dalam unit mereka, dan memastikan bahwa tentara segera mendapatkan perawatan.

Hampir 10.000 tentara Israel dari 19.000 orang yang terluka di Gaza menderita gangguan psikologis seperti gangguan stres pasca-trauma dan sedang dirawat di Departemen Rehabilitasi Kementerian Pertahanan, menurut laporan sebelumnya oleh lembaga penyiaran publik KAN yang diterbitkan pada akhir Juli.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |