Indef Ingatkan Dampak Perang AS-Iran bagi Ekonomi Indonesia

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan eskalasi perang Israel-AS melawan Iran mulai memberi tekanan terhadap ekonomi Indonesia. Risiko utama dinilai datang dari lonjakan harga energi global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef Rizal Taufikurrahman mengatakan, shock eksternal akibat konflik tersebut mulai ditransmisikan ke ekonomi domestik, terutama melalui kenaikan harga energi dan pangan. Menurut dia, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan berpotensi ikut tertekan.

“Ini menunjukkan tergerusnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga energi dan pangan, dengan tekanan yang lebih besar dirasakan oleh kelompok menengah-bawah,” kata Rizal dalam diskusi bertajuk 2 Bulan Perang Israel-AS vs Iran: Waspada Dampak ke Perekonomian! di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Rizal menjelaskan, dalam skenario eskalasi tinggi, konsumsi riil berpotensi terkontraksi sekitar 0,21 persen. Tekanan inflasi yang muncul juga bersifat cost-push, yakni kenaikan harga yang tidak diikuti peningkatan pendapatan masyarakat.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih berpeluang bertahan di kisaran lima persen. Namun, kenaikan biaya energi dan logistik mulai menekan sejumlah sektor, mulai dari pangan, industri pengolahan, transportasi, hingga jasa.

“Meskipun ekonomi Indonesia masih berada di kisaran lima persen, tekanan biaya akibat kenaikan energi dan logistik menyebar ke berbagai sektor,” ujar Rizal.

Ia menambahkan, tekanan paling besar juga muncul pada sisi fiskal. Lonjakan harga minyak global diperkirakan meningkatkan beban subsidi energi yang dalam jangka pendek dapat menahan inflasi, tetapi dalam jangka menengah berisiko mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Di sisi lain, Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto menilai gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar risiko global. Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga gejolak di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Menurut Eko, tekanan terhadap Indonesia masuk melalui dua jalur. Pertama, secara langsung melalui kenaikan harga minyak yang sudah bergerak di kisaran 108 dolar AS per barel. Kedua, secara tidak langsung lewat perlambatan ekonomi mitra dagang dan gangguan rantai pasok global. “Tekanan tersebut masuk ke perekonomian domestik melalui dua jalur,” kata Eko.

Ia menambahkan, tekanan juga mulai terlihat di pasar keuangan, mulai dari potensi capital outflow, meningkatnya cost of fund, hingga perlambatan pertumbuhan kredit. Dalam kondisi ini, pemerintah dinilai menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas harga, fiskal, dan daya beli masyarakat.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |