REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (DPP Gapasdap) mengapresiasi rencana pemerintah menerapkan program B50 sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, implementasi pada kapal penyeberangan harus dilakukan secara bertahap, berbasis hasil uji ilmiah, serta mengutamakan keselamatan pelayaran.
Ketua Umum DPP Gapasdap, Khoiri Soetomo menyebut, operator penyeberangan pada prinsipnya mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor solar. Meski demikian, sambung dia, penerapan B50 di sektor pelayaran memerlukan kehati-hatian karena karakteristik operasional kapal berbeda dengan kendaraan darat.
"Kapal penyeberangan mengangkut jutaan penumpang, kendaraan, dan logistik antarpulau setiap tahun. Karena itu, setiap perubahan spesifikasi bahan bakar harus dipastikan tidak menurunkan tingkat keselamatan, keandalan mesin, maupun kontinuitas pelayanan kepada masyarakat," ujar Khoiri dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, kapal beroperasi dalam kondisi yang jauh lebih kompleks dibandingkan moda transportasi darat. Gangguan pada sistem bahan bakar yang mungkin masih dapat ditoleransi pada kendaraan darat, sambung Khoiri, dapat menimbulkan risiko yang jauh lebih besar apabila terjadi saat kapal sedang berlayar.
Dia pun mengingatkan, regulasi internasional telah memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan biofuel dengan kandungan campuran di atas 30 persen. Dalam ketentuan International Maritime Organization (IMO), menurut Khoiri, penggunaan bahan bakar jenis tersebut harus memenuhi persyaratan tambahan, termasuk memastikan kepatuhan mesin terhadap standar emisi maupun aspek keselamatan operasional.
Selain itu, sejumlah hasil penelitian dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan, penggunaan biodiesel berkadar tinggi berpotensi menyebabkan penurunan performa mesin. Hal itu diikuti peningkatan konsumsi bahan bakar, serta perubahan karakteristik bahan bakar yang memerlukan perhatian dalam pengoperasian mesin kapal.
Kajian juga mencatat, biodiesel memiliki kecenderungan lebih mudah mengalami degradasi selama penyimpanan, lebih rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme, serta dapat meningkatkan pembentukan endapan (sludge). Khoiri menyebut, dalam sistem bahan bakar kapal, kondisi itu berpotensi mempercepat penyumbatan filter, meningkatkan beban separator, dan menambah kebutuhan pemeliharaan.
Khoiri menilai, apabila gangguan pada sistem bahan bakar menyebabkan suplai bahan bakar ke mesin terganggu, kapal dapat mengalami kehilangan tenaga penggerak (loss of propulsion). Dalam kondisi alur pelayaran yang sempit, arus kuat, atau saat proses sandar, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan pelayaran.
"Keselamatan pelayaran tidak boleh dikompromikan. Karena itu implementasi B50 harus diawali melalui pengujian yang memadai sebelum diterapkan secara luas," kata Khoiri.
.png)
5 hours ago
2












































