AFIFAH ZAHWA
Lainnnya | 2026-06-22 17:33:57
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI
Anda mungkin pernah merasakannya: Duduk di tengah keramaian, ponsel dalam genggaman tangan, puluh bahkan ratusan notifikasi menghampiri, tetapi rasanya hampa. Sepi meski tak sendiri, rasanya kosong meski ramai dimana-mana. Inilah kontradiksi terbesar era digital: ratusan teman online tidak selalu mampu menggantikan satu percakapan nyata.
Berdasarkan Laporan We Are Social (2025) sebanyak 6,04 miliar orang di seluruh dunia kini menggunakan internet, dengan sekitar 5,66 miliar di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial. Data digital Indonesia Oktober 2025 menunjukkan bahwa Indoneisa merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar ke-4 di dunia. Terdapat 212 juta pengguna internet dengan 180 juta jiwa merupakan pengguna aktif media sosial seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan X dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 3 jam 7 menit setiap harinya. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini berarti setengah pebduduk Indonesia secara rutin berkomunikasi dan terhubung bersama individu lain setiap harinya melalui layar. Namun muncul pertanyaan yang jarang kita sadari, apakah semua aktivitas digital itu benar benar bentuk komunikasi? Ataukah sekadar transaksi simbolis, mengirim emoji, memberikan likes, dan status diperbarui tanpa ada jiwa yang benar-benar menyentuh jiwa lain?
Kita bisa "bersama" dengan ratusan orang dalam satu waktu, tanpa benar-benar bersama siapa pun.
Fenomena ini dalam psikologi sosial sering disebut sebagai fenomena ”alone together”, sebuah paradoks dimana individu terhubung secara virtual dengan banyak pihak, tetapi secara emosional justru semakin terasing satu sama lain. Ketika sesorang memiliki banyak koneksi online, tetapi tidak memiliki hubungan yang benar-benar bermakna. Kita hadir di ruang digital yang sama, melihat postingan yang sama, bahkan saling berbalas melalui komentar. Namun kehadiran itu bersifat dangkal (Kartini et al., 2024). Media sosial memungkinkan individu memperluas jaringannya, tetapi sebagian besar dari interaksi ini cenderung singkat, cepat, dan sebatas pengenalan di permukaan.
Platform digital secara tidak langsung menciptakan ilusi keintiman semacam ini. Kita merasa dekat dengan orang lain karena bisa melihat aktivitasnya setiap menit, mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan, apa yang biasanya mereka makan, kemana mereka pergi, bahkan bagaimana susasana hatinya saat itu. Namun mengetahui banyak informasi tentang orang lain, bukan berarti kita benar-benar mengenal mereka, karena yang tersaji sebenanya hanyalah saling mengkonsumsi konten media sosial satu sama lain, bukan bertukar makna yang sesungguhnya. Kita mungkin berteman dan berinteraksi dengan banyak orang secara online, tetapi hubungan ini tak selalu menunjukkan seberapa dalam interaksi antar keduanya (Fajriah & Ningsih, 2024).
Apa yang Tidak Bisa Dikirim Lewat Pesan
Sebuah pesan maya mungkin mampu menyampaikan informasi, tetapi tidak selalu mampu menyampaikan makna yang utuh. Komunikasi digital menjadikan pesan terkirim dengan praktis, mendekatkan jarak yang bahkan ratusan kilometer jauhnya, dan mengisyaratka kata melalui emoji di dalamnya. Namum kenyataan ini berarti sebuah pesan teks dapat menyampaikan apa yang dikatakan oleh orang lain, tetapi belum tentu bagaimana perasaan yang menyertainya.
Berbeda dengan pesan virtual, percakapan tatap muka melibatkan lebih dari sekadar pertukaran kata. Ketika dua orang berbicara secara langsung, bukan hanya pertukaran kata yang terjadi antara keduanya, keselarasan nafas, perubahan ekspresi mikro wajah dalam sepersekian detik, detak jantung yang perlahan-lahan sinkron, dan sistem saraf yang mulai bernyanyi bersama, atau yang dikenal dengan fenomena phsyological synchrony. Keselarasan respon biologis dua orang atau lebih dalam sebuah interkasi menjelaskan adanya keterhubungan sosial, empati, perhatian bersama, dan kedekatan emosional antar sesama. Sebagaimana dalam riset Stieger, Lewetz, dan Willinger (2023) yang melibatkan 411 partisipan selama empat minggu masa lockdown pandemi. Hasilnya tegas, komunikasi tatap muka atau percakapan langsung yang bermakna akan jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan mental dibandingkan semua bentuk komunikasi digital termasuk video call. Temuan ini berbicara tentang bagaimana otak manusia membaca isyarat sosial langsung yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh piksel di layar. Serangkaian informasi penting, seperti ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh tidak dapat tersampaikan melalui pesan virtual, yang tersisa hanyalah kata-kata dan emoji belaka.
Data yang Tidak Bisa Kita Abaikan
Jika media sosial benar-benar menyatukan manusia, kita seharusnya hidup di era paling terhubung sekaligus paling bahagia. Namun kenyataannya justru tidak demikian. Penelitian Matthews et al, (2025) terhadap 1.632 responden dewasa muda di Inggris menunjukkan bahwa semakin banyak waktu seseorang habiskan secara online, semakin tinggi tingkat kesepiannya. Bukan sebaliknya. Koneksi digital tidak mengisi kekosongan sosial, ia justru memperlebar jurangnya.
Di Indonesia, pola serupa mulai terdokumentasi. Penelitian Abidah dan Maryam (2024) menemukan korelasi signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan perasaan loneliness dan insecure pada remaja. Ironisnya, mereka yang profilnya paling aktif dan jumlah pengikutnya paling banyak justru paling rentan terhadap kesepian emosional.
Penelitian Achterhof et al., (2022) menambahkan dimensi lain yang mengkhawatirkan ialah remaja secara konsisten melaporkan merasa kurang bahagia, kurang berenergi, dan lebih kesepian setelah interaksi online, bahkan ketika konten percakapannya positif. dibanding setelah interaksi tatap muka. Ini bukan tentang apa yang dibicarakan. Ini tentang bagaimana dan di mana komunikasi itu terjadi.
Mengapa Kita Tetap Terjebak: Psikologi di Balik Ilusi
Jika data sudah sejelas ini, mengapa banyak dari kita yang masih menghabiskan rata-rata tiga hingga lima jam sehari bermain media sosial? Jawabannya terletak pada cara platform digital dirancang dan cara manusia bekerja.
Platform media sosial dibangun di atas pemahaman mendalam tentang psikologi manusia. Setiap likes, komentar, dan notifikasi yang diterima akan memunculkan perasaan senang dan dihargai. Karena respons tersebut muncul secara tidak pasti dan tidak dapat ditebak, pengguna terdorong untuk terus membuka aplikasi, menggulir, serta menunggu validasi dan interaksi berikutnya. Kebutuhan manusia untuk diterima secara sosial membuat respons dari media sosial terasa penting, meskipun berasal dari orang-orang yang belum tentu dikenal secara dekat. Otak kita yang berevolusi untuk mencari penerimaan sosial tidak bisa membedakan antara tepuk tangan sungguhan dan 200 likes dari akun yang bahkan tidak kita kenal.
Fenoemna lain yang disebut sebagai availability heuristic, atau kecenderungan otak menilai sesuatu berdasarkan seberapa umum penting, atau benar suatu hal berdasarkan seberapa mudah contoh atau informasi tersebut muncul dalam pikirannya. Semakin sering seseorang melihat atau mengingat suatu informasi, semakin besar kemungkinan ia menganggap informasi tersebut mewakili kenyataan, meskipun belum tentu demikian. Ketika kita bermain media sosial dan melihat ratusan nama teman, pengikut, likes, atau komentar, otak secara otomatis menyimpulkan bahwa jaringan sosial kita kuat dan sehat. Padahal, jumlah interaksi yang terlihat tersebut belum tentu mencerminkan kedekatan hubungan atau dukungan sosial yang nyata.
Komunikasi digital juga menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki percakapan nyata,yaitu kontrol penuh. Kita bisa mengedit sebelum mengirim, menunda respons berjam-jam, bahkan menghilang tanpa penjelasan. Kenyamanan ini terasa mewah. Namun justru di sanalah masalahnya. Hal-hal yang membuat percakapan bermakna menjadi elemen yang hilang, kerentanan, ketidakpastian, dan ketidakhadiran yang utuh.
Apa yang Perlu Kita Lakukan
Solusinya bukan dengan menghindari media sosial sepenuhnya atau membangun tembok antara diri kita dan dunia digital. Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan menawarkan berbagai manfaat, mulai dari memperoleh informasi seacra cepat, memperluas jaringan pertemanan, hingga menjaga komunikasi dengan keluarga, teman, maupun rekan yang berada jauh secara geografis. Namun, penting untuk menggunakan media sosial secara lebih sadar dan seimbang, yang kita butuhkan bukanlah penolakan terhadap teknologi, melainkan kemampuan untuk menggunakannya seacra lebih sadar, kritis, dan seimbang. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat dan nilainya bergantung sepenuhnya pada bagaimana cara kita menggunakannya.
Penelitian Andira & Mesra (2025) menunjukkan bahwa dampak media sosial tidak hanya ditentukan oleh lamanya penggunaan, tetapi juga oleh cara penggunaannya. Penggunaan yang berfokus pada membangun, mempertahankan, dan mempererat hubungan sosial cenderung memberikan manfaat yang lebih positif dibandingkan penggunaan yang hanya bersifat pasif, seperti melihat unggahan orang lain tanpa berinteraksi secara bermakna. Aktivitas pasif semacam ini sering kali mendorong munculnya perbandingan sosial, perasaan tertinggal, serta persepsi bahwa kehidupan orang lain lebih menarik dan lebih bahagia daripada kehidupan diri sendiri. Sebaliknya, ketika media sosial digunakan untuk berbagi pengalaman, memberikan dukungan emosional, atau menjaga hubungan dengan orang-orang yang memiliki arti penting dalam hidup, platform digital dapat menjadi sarana yang memperkuat rasa keterhubungan sosial.
Merebut Kembali Satu Percakapan yang Nyata
Di tengah arus deras notifikasi yang tak pernah tidur, percakapan yang benar-benar nyata di mana kedua belah pihak hadir sepenuhnya akan menjadi ruang yang semakin penting untuk membangun kedekatan, pemahaman, dan dukungan sosial. Sebagaimana akhirnya kita menyadari bahwa tidak ada jumlah followers yang bisa menggantikan rasa benar-benar dikenal oleh seseorang. Tidak ada algoritma yang bisa merepresentasikan bagaimana ketika dua manusia berbincang bersama. Ratusan teman online bisa membuat hari kita terasa lebih sibuk, lebih populer, bahkan lebih penting. Tetapi satu percakapan nyata dengan satu orang yang benar-benar hadir untuk kita, itu yang membuat hidup terasa lebih utuh.
Oleh karena itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memprioritaskan kedalaman di atas jangkauan koneksi. Memiliki hubungan yang dirawat sungguh-sungguh dengan tulus, penuh prhatian, dan saling mendukung jauh lebih berharga dari ratusan koneksi permukaan yang bersifat dangkal.
Selain itu, gunakan platform digital sebagai jembatan untuk memperkuat hubungan dan interaksi nyata, bukan sebagai pengganti seluruh interaksi sosial secara langsung. Mengirim pesan, berbagi cerita, atau berinteraksi melalui platform digital dapat menjadi langkah awal yang baik untuk menjaga kedekatan, tetapi hubungan yang mendalam umumnya tetap membutuhkan interaksi yang lebih personal. Penting juga untuk menyuguhkan kehadiran penuh dalam percakapan langsung, tanpa ponsel, mata menatap, dan telinga yang benar-benar mendengar.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah bagaimana tetap terhubung dengan lebih banyak orang, melainkan bagaimana tetap merasa terhubung secara bermakna. Kita tidaklah harus memilih antara dunia online atau offline, melainkan menemukan keseimbangan di antara keduanya karena pada akhirnya, ruang maya dapat membantu kita terhubung dengan lebih banyak orang. Namun, kualitas hubungan yang kita bangun tetap bergantung pada bagaimana kita berinteraksi, berkomunikasi, dan hadir satu sama lain sebagai manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
4 hours ago
2







































