Hilangnya Spirit Piala Dunia di Amerika Serikat

6 days ago 21

Seorang warga memasang dekorasi bendera negara peserta Piala Dunia 2026 di Museum Titik Nol Pasoepati, Solo, Jawa Tengah, Kamis (4/6/2026). Pemasangan dekorasi tersebut untuk menyambut Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada 12 Juni hingga 20 Juli 2026 di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Sejumlah insiden diskriminatif mewarnai pelaksanaan Piala Dunia 2026, utamanya di wilayah Amerika Serikat. Semangat sepak bola yang sedianya inklusif dan egaliter dinilai ternoda lewat insiden-insiden tersebut.

Menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 pada Kamis waktu setempat, tim, ofisial, media, dan suporter dari negara-negara Global South—khususnya Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin—menghadapi hambatan yang jauh lebih besar dibanding peserta dari negara-negara Barat. Persoalan visa, biaya perjalanan, pengawasan imigrasi, hingga tensi geopolitik membuat Piala Dunia kali ini berpotensi menjadi cerminan ketimpangan global yang selama ini berlangsung di luar lapangan.

Masalah paling nyata adalah akses masuk ke Amerika Serikat. Berbagai laporan menunjukkan banyak peserta dan suporter dari negara-negara berkembang menghadapi proses visa yang panjang, mahal, dan tidak pasti.

Kasus paling mencolok menimpa Iran. Sejumlah ofisial tim nasional dilaporkan gagal memperoleh visa AS sehingga tim terpaksa memusatkan latihan di Meksiko dan melakukan perjalanan lintas batas untuk pertandingan. Sejumlah pendukung Timnas Maroko juga ditolak masuk AS.

Sementara pemain bintang Timnas Irak, Aymen Hussein sempat ditahan agen Bea Cukai dan Patroli Perbatasan AS selama tujuh jam di Bandara O’Hare. Fotografer tim, Talal Salah juga ditahan dan akhirnya dilarang masuk AS. 

Seorang wasit asal Somalia, Omar Artan, dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk meski telah ditunjuk untuk bertugas di turnamen.

Muncul juga video di media sosial menggambarkan anggota tim sepak bola nasional Senegal menjalani pemeriksaan keamanan yang ketat setelah tiba di AS untuk mengikuti Piala Dunia.

Terdapat 39 negara yang terkena larangan perjalanan AS secara penuh atau sebagian. Untuk 19 negara di antaranya, Departemen Luar Negeri telah menangguhkan penerbitan semua visa. Pemerintahan Trump mengatakan langkah tersebut adalah untuk "memastikan bahwa individu yang disetujui untuk mendapatkan visa tidak membahayakan keamanan nasional atau keselamatan publik."

Empat negara dalam daftar tersebut – Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal akan bermain di Piala Dunia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |