
Oleh: Ustaz Muh. Riezky Pradana Mukhtar, Lc., M.H.*)
Dalam lembaran sejarah Islam, terdapat sebuah dialog yang mengharukan antara Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan seorang sahabat beliau, Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.
Peristiwa yang terjadi di tahun Haji Wada’ ini bukan sekadar fragmen sejarah, melainkan juga sebuah kompas moral bagi umat dalam mengelola harta, tanggung jawab keluarga, dan orientasi ibadah.
Kala itu, Saad bin Abi Waqqash menderita sakit parah. Sebagai saudagar kaya yang saat itu hanya memiliki satu anak perempuan, muncul keinginan tulus dari dalam hatinya untuk menyedekahkan sebagian besar hartanya demi akhirat.
Ia meminta izin untuk mendonasikan setengah atau bahkan dua pertiga dari harga kekayaannya. Namun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menahan keinginan tersebut.
Beliau menetapkan batasan maksimal: sepertiga harta (al-tsuluts). Itu pun sudah dianggap "banyak."
Keseimbangan dalam memberi
Pesan Rasulullah dalam hadis ini meruntuhkan pandangan keliru bahwa kesalehan hanya diukur dari seberapa banyak harta yang dilepaskan seseorang ke jalan sosial. Beliau menegaskan, "Engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia."
Di sini, Islam mengajarkan konsep financial planning yang visioner. Dermawan kepada pihak luar memang mulia. Namun, memastikan keluarga sendiri tidak menjadi beban sosial di masa depan adalah prioritas yang tak kalah utama.
Dalam kacamata syariat, membiarkan ahli waris terlantar dalam kemiskinan justru bertentangan dengan semangat keadilan dalam mengelola harta.
Salah satu butir mutiara dari hadits ini adalah penjelasan mengenai kekuatan niat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa nafkah yang diberikan kepada keluarga, bahkan sesuap nasi yang diletakkan seorang suami ke mulut istrinya, akan bernilai pahala sedekah jika diniatkan mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pesan ini sangat relevan bagi masyarakat modern yang sering terjebak dalam dikotomi dengan menganggap pekerjaan kantor atau rutinitas rumah tangga sebagai sesuatu yang "duniawi", sedangkan ibadah ritual dianggap satu-satunya "akhirat." Padahal, Islam mengintegrasikan keduanya.
Selama aktivitas yang kerap dianggap "duniawi"—seperti bekerja mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan keluarga—dilandasi oleh niat mencari ridha Allah, maka setiap tetes keringat dari sana akan dicatat sebagai ketaatan kepada-Nya.
Hadis yang sama juga memberikan pelajaran tentang cara pandang terhadap usia. Saad bin Abi Waqqash merasa gundah saat sakit karena takut kematian menjemputnya di Makkah, tempat ia dahulu berhijrah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
4 hours ago
2















































