Harga Rumah Kian Mahal, Gen Z Cari Jalan Baru Miliki Hunian

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenaikan harga rumah yang tidak sejalan dengan pertumbuhan pendapatan membuat generasi muda, khususnya Gen Z, semakin sulit memiliki hunian. Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai inovasi perumahan yang menawarkan alternatif kepemilikan rumah di luar skema konvensional.

Sejumlah inovasi tersebut dipamerkan dalam BTN Expo 2026 melalui karya para finalis BTN Housingpreneur 2025, ajang yang digagas PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk untuk merespons persoalan keterjangkauan perumahan nasional.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, BTN Housingpreneur menjadi ruang bagi para inovator untuk menghadirkan solusi nyata di sektor perumahan. “Kami mengumpulkan startup-startup di bidang perumahan, mulai dari property technology (proptech), produsen material bangunan yang mengandung unsur sustainability, desain rumah rendah emisi atau rumah hijau, dan lain-lain,” ujar Setiyo di sela BTN Expo 2026, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, minat terhadap program tersebut cukup tinggi. Lebih dari 8.000 peserta mengikuti proses seleksi hingga akhirnya terpilih 58 inovator yang menampilkan karyanya. Mayoritas inovasi diarahkan untuk menekan biaya pembangunan rumah dan memperluas akses kepemilikan.

Beberapa inovator menawarkan material bangunan alternatif untuk menurunkan biaya konstruksi. Parongpong Raw Lab mengolah sampah residual nonplastik menjadi bahan bangunan, sementara Agriya dari Surabaya memanfaatkan sekam padi sebagai bahan cat tembok. Bell Living Lab dari Bandung juga mengembangkan material dari limbah kopi.

Program Manager Parongpong Raw Lab Kendan Maranatha mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari persoalan limbah yang belum tertangani. “Jadi konsep yang kami angkat adalah waste-to-material. Contohnya, produk kami yang bernama Oriplast berasal dari karung semen. Ini bisa menjadi pengganti decking kayu dan mengurangi deforestasi,” ujarnya.

Selain efisiensi biaya, mitigasi risiko lingkungan juga menjadi perhatian. Geoflood AI dari Palembang menawarkan teknologi kecerdasan buatan untuk memetakan risiko banjir sejak tahap awal perencanaan hunian, sehingga desain rumah dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah.

Di sisi akses kepemilikan, mahalnya harga rumah dan besarnya uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) melahirkan inovasi skema sewa-beli atau rent-to-own. Aplikasi Ontoown dari Bandung menawarkan model hunian bertahap yang memungkinkan masyarakat menempati rumah dengan sistem sewa bulanan hingga memiliki dana yang cukup untuk membayar uang muka KPR.

“Inovasi kami berasal dari permasalahan bahwa banyak sekali hunian atau aset yang menganggur. Tetapi di sisi lain, banyak orang, terutama Gen Z, yang membutuhkan rumah, namun pertumbuhan penghasilan mereka tidak lebih cepat daripada pertumbuhan harga rumah,” ujar Zikra dari tim Ontoown.

Ia menambahkan, platform tersebut ditujukan bagi masyarakat yang belum memiliki riwayat kredit maupun dana awal. “Platform ini mempermudah Gen Z yang ingin memiliki rumah, tetapi tidak memiliki credit history dan uang muka untuk KPR,” katanya.

BTN menilai inovasi-inovasi tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan sebagai alternatif solusi keterjangkauan hunian. Karya para finalis BTN Housingpreneur 2025 dapat disaksikan masyarakat dalam rangkaian BTN Expo 2026 yang akan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada inovator perumahan terbaik nasional pada 31 Januari 2026.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |