8000hoki.com Data Agen situs Slot Gacor Vietnam Terpercaya Sering Jackpot Setiap Hari
hokikilat Platform situs Slot Gacor Indonesia Terbaru Mudah Jackpot Setiap Hari
1000 hoki Data ID web Slot Maxwin Malaysia Terbaik Pasti Lancar Scatter Setiap Hari
5000 hoki Daftar situs Slot Gacor Vietnam Terkini Pasti Menang Setiap Hari
7000 Hoki Online List Daftar situs Slots Maxwin Singapore Terbaru Sering Menang Full Terus
9000 Hoki Online Situs website Slots Gacor Indonesia Terbaru Pasti Scatter Full Setiap Hari
Alternatif Daftar Slots Maxwin server Terpercaya Gampang Lancar Win Full Non Stop
Idagent138 login Id Slot Anti Rungkat Terpercaya
Luckygaming138 login Id Slot Game Terpercaya
Adugaming Daftar Akun Slot Anti Rungkad Terpercaya
kiss69 login Akun Slot Gacor Online
Agent188 login Slot Maxwin Terbaik
Moto128 login Akun Slot Anti Rungkat
Betplay138 login Slot Game Terbaik
Letsbet77 Id Slot Anti Rungkat
Portbet88 login Slot Maxwin Terbaik
Jfgaming168 Id Slot Maxwin
Mg138 Slot Game
Adagaming168 Daftar Akun Slot Anti Rungkad Online
Kingbet189 Akun Slot Gacor Terbaik
Summer138 Daftar Slot Gacor Online
Evorabid77 Slot Anti Rungkad
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepolisian Filipina menangkap mantan Presiden Rodrigo Duterte di Bandara Internasional Manilla pada hari ini, Selasa (11/3).
Penangkapan ini dikabarkan dilakukan sebagai tindak lanjut surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Filipina padahal bukan lagi anggota pengadilan internasional itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filipina keluar dari anggota ICC pada 2018, saat Duterte menjadi presiden.
Lalu, mengapa Filipina bisa menangkap Duterte dengan membawa nama ICC?
Semua ini berawal dari anti narkoba yang begitu masif, Project Double Barrel, yang diluncurkan setelah Duterte resmi menjadi presiden pada Juni 2016.
Lalu pada Oktober 2016, Jaksa ICC Fatou Bensouda menyatakan keprihatinan atas laporan eksekusi di luar hukum terhadap para tersangka pengguna dan pengedar narkoba di Filipina.
Menurut catatan kelompok pembela hak asasi manusia, operasi antinarkoba itu menewaskan 12.000 hingga 30.000 orang dengan puncak kematian terjadi selama 2016 dan 2017. Data kepolisian sementara itu mencatat angka lebih dari 6.200 jiwa.
Kelompok pembela HAM melaporkan selama periode itu, ribuan pengguna narkoba dan pedagang kecil tewas dibunuh secara misterius oleh penyerang tak dikenal.
Kemudian pada 2018, ICC menggelar penyelidikan dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan Duterte dalam operasi anti narkoba.
Bersamaan dengan itu, Filipina menarik diri dari keanggotaan ICC. Namun, penyelidikan tetap berjalan.
Kemudian pada 8 Maret, sejumlah sumber di Filipina mengatakan ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Duterte.
Organisasi Kepolisian Kriminal Internasional (interpol) juga mengeluarkan red notice yang menyerukan penegak hukum menangkap atau mencari pihak yang akan diadili.
Pemerintah Filipina pun siap menindaklanjuti surat perintah penangkapan itu hingga hari ini berhasil membekuk Duterte
"[Jika ICC dan Interpol] mengajukan permintaan ke kami untuk penangkapan atau penyerahan tahanan seseorang yang berada di Bawah yurisdiksi ICC, kami akan menanggapi permintaan Interpol dengan positif," kata pejabat pemerintah, dikutip Rappler.
Usai ditangkap, Asisten Konsul ICC Kristina Conti juga menegaskan Duterte harus segera diserahkan ke negara anggota ICC.
Dia lalu akan dibawa ke markas ICC, di Hague, Belanda.
(isa/rds)