Braiden
Culture | 2026-07-06 11:27:43
cr: belukab.go.id
Penulis: Braidenstein Billy McPaul Boimau
Afiliasi : Universitas Airlangga
Email: [[email protected]]
Di ujung timur Nusantara, di tanah perbatasan yang mempertemukan Indonesia dan Timor Leste, sebuah perayaan yang memadukan seni, budaya, dan pesona alam dalam satu harmoni - Festival Fulan Fehan. Festival tahunan yang digelar di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan perayaan identitas dan warisan budaya masyarakat Belu.
Keistimewaan Festival Fulan Fehan terletak pada panggungnya yang tidak dibatasi dinding ataupun atap. Hamparan Sabana Fulan Fehan yang membentang luas di kaki Gunung Lakaan, tepatnya di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, menjadi panggung alami yang memukau. Di bawah bentangan langit biru dan di tengah lautan rumput yang bergoyang mengikuti hembusan angin, setiap tarian, alunan musik, dan ritual budaya seolah menyatu dengan alam, menghadirkan pengalaman yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 28 Oktober 2017, Festival Fulan Fehan telah menjelma menjadi denyut budaya yang terus hidup di tanah perbatasan Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, festival ini lahir bukan sekadar sebagai sebuah perhelatan, melainkan sebagai ikhtiar untuk merawat warisan leluhur, memperkenalkan pesona wisata perbatasan, serta mempererat jalinan persaudaraan antara Indonesia dan Timor Leste.
Di hamparan Sabana Fulan Fehan yang seakan tak bertepi, ribuan penari Likurai bergerak serempak, menciptakan gelombang harmoni yang berpadu dengan semilir angin dan megahnya kaki Gunung Lakaan. Setiap hentakan kaki dan tabuhan tihar bukan sekadar pertunjukan, melainkan gema sejarah yang diwariskan turun-temurun. Dahulu, Tari Likurai dipersembahkan untuk menyambut para pahlawan yang kembali dari medan laga dengan membawa kemenangan. Kini, tarian itu menjelma menjadi lambang penghormatan, persaudaraan, dan semangat gotong royong yang terus menyatukan masyarakat Belu.
Berdiri anggun di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste, Festival Fulan Fehan menjadi lebih dari sekadar panggung seni. Ia menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa melalui bahasa budaya yang universal. Pada tahun 2026, Festival Fulan Fehan mengusung semangat persahabatan, dalam tema Dance for Friendship, mempertemukan masyarakat, seniman, dan para tamu dari berbagai negara. Kehadiran delegasi dari Timor Leste hingga Australia menjadi bukti bahwa budaya mampu melampaui batas geografis, menghadirkan ruang dialog, persaudaraan, dan perdamaian di ujung timur Nusantara.
Keindahan Festival Fulan Fehan tidak hanya terlukis melalui Tari Likurai. Berbagai ritual adat yang sarat makna turut menghidupkan suasana, menghubungkan masyarakat dengan nilai-nilai luhur para leluhur. Di setiap sudut festival, kain tenun ikat khas Belu memamerkan kisah yang terajut dalam setiap helainya, sementara alunan lembut suling bambu mengalir mengikuti desir angin sabana, menciptakan simfoni yang menyatu dengan alam. Seluruh rangkaian acara menjadi sebuah perayaan yang merangkul tradisi, seni, dan kehidupan dalam harmoni yang memikat hati setiap pengunjung.
Di hamparan Sabana Fulan Fehan yang luas membentang, semoga Festival Fulan Fehan senantiasa menjadi denyut kehidupan budaya yang tak pernah padam. Kiranya setiap langkah Tari Likurai, setiap helai tenun yang terhampar, serta setiap nada suling bambu dan tabuhan tihar yang mengalun terus menghidupkan warisan leluhur dan menguatkan jati diri masyarakat Belu.
Selama angin masih berembus di padang Fulan Fehan dan langkah-langkah Likurai masih menggema di atas hamparan rumputnya, festival ini akan terus menjadi simbol kebanggaan Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur - sebuah ruang tempat budaya, alam, dan persahabatan lintas batas berpadu, mengukir cerita yang akan terus diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
1















































