REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sedang menyusun sebuah prototipe modul ajar untuk anak sekolah sebagai pendekatan edukasi yang berguna bagi pelestarian dan perlindungan mangrove di Indonesia. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Melalui program bertajuk Next Generation of Mangrove Stewards yang didukung oleh proyek Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), UNUSIA bertekad mencetak penjaga, advokat, dan inovator mangrove masa depan dari wilayah pesisir.
“Tujuan utamanya adalah agar bisa menghadirkan modul pembelajaran atau prototipe edukasi mangrove yang bisa digunakan guru untuk mengedukasi siswa dari sekolah dan madrasah di daerah konservasi mangrove dalam membentuk generasi muda di wilayah pesisir sebagai penjaga, advokat, dan inovator mangrove di masa depan,” kata Wakil Rektor UNUSIA Fathu Yasik dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).
Menurut Yasik, melalui kajian yang dilakukan UNUSIA, program ini dilatarbelakangi empat konteks permasalahan yang sedang terjadi pada ekosistem mangrove saat ini. Pertama, perubahan iklim menjadi tantangan global yang membutuhkan aksi nyata dari berbagai pihak.
Kedua, ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim, perlindungan pesisir, dan berpotensi menumbuhkan ekonomi berkelanjutan. Ketiga, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa degradasi mangrove yang diakibatkan oleh tekanan pembangunan dan masih rendahnya kesadaran masyarakat. Keempat, perlunya penyusunan strategi implementasi kesadaran memulihkan, meningkatkan, dan mempertahankan (3M) ekosistem mangrove di sektor pendidikan formal untuk membangun kesadaran jangka panjang generasi muda.
Proses penyusunan modul ajar “Edukasi Mangrove Berbasis Sekolah dan Madrasah” ini sudah dimulai sejak awal tahun 2026. Dengan dukungan M4CR di KLH/BPLH yang berfokus pada penguatan tata kelola ekosistem mangrove, tim peneliti dari UNUSIA turun ke lapangan untuk melakukan survei langsung kepada anak-anak sekolah di kawasan mangrove.
Lokasi penelitian yang dipilih adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang berada dekat dengan kawasan ekosistem mangrove.
Dari data dan fakta di lapangan yang dikumpulkan UNUSIA, ada tiga temuan penting yang menjadikannya layak untuk ditindaklanjuti. Pertama, lebih dari 50 persen siswa tidak peduli jika suatu saat nanti pohon mangrove yang berada di desa mereka hilang. Ketidakpedulian ini berakar pada kurangnya pengetahuan dan pengalaman kontekstual terhadap lingkungan sekitar mereka.
Temuan kedua, selama ini sekolah dan pegiat ekosistem mangrove menjalankan programnya masing-masing tanpa adanya kolaborasi atau kerja sama yang terarah. Hal ini menjadikan peserta didik tidak memiliki irisan pengalaman dengan ekosistem mangrove di lingkungannya yang seharusnya bisa dijadikan sumber belajar kontekstual.
“Guru dan kepala sekolah menyampaikan bahwa mereka membutuhkan modul atau buku ajar yang bisa dijadikan rujukan untuk pembelajaran dengan memanfaatkan ekosistem mangrove. Dari situlah kami menyusun buku ajar yang akan digunakan sebagai pegangan bagi guru untuk mengajari siswa tentang pentingnya menjaga mangrove,” ujarnya.
.png)
3 hours ago
1

















































