DDT Manggarai-Cikarang: Proyek Mangkrak di Balik Kecelakaan KRL Bekasi Timur

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Rencananya DDT (double-double track) selesai 2020, bisa dibayangkan kalau menunggu 2022 maka kapasitas perjalanan sangat minimal. Oleh karenanya saya minta Dirjen Perkeretaapian untuk lebih intens agar proyek ini bisa selesai pada 2020."

Pernyataan ini pernah disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) periode 2019-2024, Budi Karya Sumadi, saat meninjau Stasiun Manggarai, Jakarta, pada Maret 2018.

DDT atau jalur rel kereta api dwiganda merupakan sistem infrastruktur perkeretaapian empat jalur rel (dua pasang jalur ganda) yang memisahkan perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ) dengan kereta rel listrik (KRL) di lintasan Manggarai-Cikarang sepanjang 35 kilometer (km).

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten Jumardi mengatakan proyek pembangunan jalur rel dwiganda ini sudah dicanangkan sejak 2002. Awalnya dibiayai oleh pinjaman dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dengan syarat tanah bebas 100 persen. 

"Namun di tengah perjalanan, pembebasan tanah menemui hambatan sehingga Direktorat Jendral Perkeretaapian (DJKA) membiayai anggaran sejak 2015," ucap Jumardi pada April 2019. 

Realitanya, target penyelesaian DDT Manggarai-Cikarang terus meleset dari tahun ke tahun. Pada 2015, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) era Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memperkirakan proyek jalur rel kereta api dwiganda Manggarai-Cikarang sepanjang 34,14 kilometer rampung pada awal 2018.

Dirjen Perkeretaapian Kemenhub era Jonan, Hermanto Dwiatmoko menjelaskan dana proyek DDT ini merupakan pinjaman IP-508 yang dibagi dalam tiga periode yakni periode 11 September 2002-11 September 2012, periode Perpanjangan 11 September 2012-11 September 2016, dan periode kontrak paket B1 antara 1 Desember 2012-31 Agustus 2016. 

"Pembangunan DDT ini dibagi dalam empat paket pengerjaan. Paket A (Manggarai-Jatinegara) senilai Rp3,440 triliun, Paket B2(1) (Jatinegara-Bekasi) Rp900 miliar, Paket B2(2) (Jatinegara – Bekasi) Rp260 miliar dan Paket B1 (Bekasi-Cikarang) senilai Rp1,121 triliun," ujar Hermanto dalam laman resmi Kemenhub pada 2015.

Per 2021, penyelesaian proyek DDT baru pada lintas Manggarai hingga Bekasi melalui Jatinegara. Artinya, KRL Cikarang Line dan KAJJ tak lagi berada dalam satu jalur yang sama pada lintasan Manggarai-Bekasi. Sementara DDT berikutnya menuju Cikarang tak kunjung terlaksana. Dengan begitu, kedua jenis kereta tersebut masih harus berbagi jalur yang sama pada lintasan Bekasi hingga Cikarang.  

Lambannya pembangunan DDT Manggarai-Cikarang menjadi sorotan usai peristiwa KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL Jabodetabek di Stasiun Bekasi Timur. Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Riza Primadi mengatakan tragedi di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut banyak korban jiwa bukan sekadar angka statistik.

Riza menyampaikan kejadian ini merupakan manifestasi kelalaian sistemik yang dipelihara di bawah hidung para pemangku kebijakan," ujar Riza Lewat unggahan di LinkedIn pada Rabu (29/4/2026).

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |