Warga memadati Jalan Pusdai, Kota Bandung, untuk berburu takjil jelang berbuka puasa, Ahad (2/3/2025). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadhan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah belasan jam menahan lapar dan dahaga, momen berbuka sering kali menjadi ajang "balas dendam" dengan berbagai hidangan manis, gorengan, dan porsi makan yang berlebihan. Namun, di balik kenikmatan tersebut, tersimpan risiko kesehatan jika pola makan tidak dijaga dengan benar.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadhan. Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Yuni Zahraini mengingatkan bahwa ketersediaan beragam makanan saat Ramadhan perlu disikapi secara bijak agar tidak memicu konsumsi berlebihan.
“Anjuran berbuka puasa dengan makanan manis tetap perlu dibatasi dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan,” kata dia setelah acara dialog bertajuk "Penguatan Pola Konsumsi Pangan Sehat dan Berkelanjutan Lewat Transformasi Digital Inklusif" di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, konsumsi minuman manis seperti sirup, teh manis, atau minuman kemasan secara berlebihan saat berbuka dapat meningkatkan asupan gula harian secara signifikan. Di sisi lain masyarakat juga perlu memastikan asupan karbohidrat, protein, dan lemak terpenuhi secara proporsional serta dilengkapi vitamin dan mineral dari sayur dan buah agar kebutuhan gizi harian tetap tercapai meski waktu makan terbatas.
Dia menyebut jika kebiasaan konsumsi gula tambahan berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi pengaturan kalori dan aktivitas fisik, kelebihan energi akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak sehingga memicu kenaikan berat badan. Selain itu, makanan tinggi lemak seperti gorengan, santan kental, dan makanan cepat saji yang sering menjadi pilihan saat berbuka juga dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut berisiko meningkatkan kadar kolesterol, memperbesar lingkar perut, serta memicu penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Yuni mengatakan perubahan perilaku makan seperti ini membutuhkan edukasi berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya mengetahui prinsip gizi seimbang, tetapi juga mempraktikkannya setiap hari, termasuk dengan mengatur porsi, membatasi gula, garam, dan lemak, serta tetap aktif bergerak.
sumber : Antara
.png)
15 hours ago
3
















































