Pengungsi Palestina melaksanakan sholat Idul Adha di samping reruntuhan Masjid Al-Huda di Khan Younis, Jalur Gaza, Rabu (27/5/2026). Warga Gaza merayakan hari raya Idul Adha tanpa adanya penyembelihan hewan kurban di tengah kelangkaan pasokan, lonjakan harga yang gila-gilaan, serta puing-puing kehancuran pasca perang. Blokade dan hancurnya banyak peternakan akibat perang membuat pasokan hewan kurban sangat terbatas, sementara harganya melonjak hingga tak lagi terjangkau bagi sebagian besar warga.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pernyataan anggota Kongres Amerika Serikat, Randy Fine, memicu gelombang kontroversi setelah dia mengklaim bahwa istilah "Palestina" hanyalah istilah yang direkayasa.
Dia menyebut penduduk Jalur Gaza sebagai orang-orang Arab yang bermigrasi dari negara-negara Arab. Pernyataan tersebut kembali menghidupkan narasi yang menyangkal identitas nasional rakyat Palestina.
Dalam wawancara bersama kreator konten Elliott Biewick, Fine mengatakan istilah Palestina adalah istilah yang dibuat-buat, tidak ada yang namanya bangsa Palestina.
Dia juga mengklaim bahwa penduduk Jalur Gaza hanyalah orang-orang Arab yang datang dari Arab Saudi, bahkan menyebut bahwa nama keluarga yang paling banyak dijumpai di Gaza adalah "al-Mashri" (orang Mesir).
Dia menambahkan bahwa istilah "Palestina" baru diciptakan beberapa dekade lalu oleh Uni Soviet sebagai bagian dari upaya melawan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut segera memicu reaksi luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah jurnalis, peneliti, dan aktivis menolak klaim tersebut, dengan menegaskan bahwa nama Palestina telah terdokumentasi dalam sejarah sejak ribuan tahun silam.
Aktivis Palestina, Tamer Qudaih, melalui platform X menyatakan Randy Fine berbicara tentang Uni Soviet, padahal penyebutan paling awal mengenai Palestina telah ditemukan sejak era Mesir Kuno.
Dia menjelaskan bahwa sejarawan Yunani kuno, Herodotus, telah menyebut Palestina pada abad ke-5 sebelum Masehi.
.png)
2 hours ago
2













































