Pertemuan Samudra Atlantik dan Mediterania yang tidak bercampur satu dengan yang lain
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para ilmuwan menemukan bahwa arus laut besar di Samudra Atlantik berpotensi melemah jauh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Bahkan, kekuatannya diprediksi bisa berkurang hingga sekitar 50 persen pada akhir abad ini.
Arus laut ini dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Fungsinya sangat penting, yakni membawa air hangat dari daerah tropis ke wilayah utara, sekaligus mengembalikan air dingin ke selatan melalui kedalaman laut.
Sederhananya, AMOC bekerja seperti “sabuk pengangkut panas” bagi Bumi. Tanpa sistem ini, distribusi suhu global bisa berubah drastis, terutama di kawasan Eropa.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa pelemahan arus ini kemungkinan lebih parah dari yang selama ini diperkirakan para ilmuwan.
Tim peneliti membandingkan data nyata dari laut dengan simulasi komputer. Hasilnya, kondisi di dunia nyata menunjukkan penurunan yang lebih tajam dibandingkan prediksi model sebelumnya.
Salah satu penyebab perbedaan ini adalah kesalahan kecil dalam model, terutama terkait kadar garam air laut. Dalam banyak simulasi, air di Atlantik Selatan dianggap terlalu “tawar”, sehingga arus terlihat lebih stabil dari kondisi sebenarnya.
Padahal, kadar garam sangat berpengaruh. Air yang lebih asin lebih berat, sehingga lebih mudah tenggelam dan membantu menjaga sirkulasi tetap berjalan. Jika kadar garam berubah, pergerakan arus juga ikut berubah.
Jika arus ini melemah, dampaknya akan terasa langsung pada cuaca. Eropa menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, terutama di bagian utara dan pesisir Atlantik.
Namun, dampaknya tidak sama di semua tempat. Ada wilayah yang bisa mengalami musim dingin lebih dingin, sementara musim panas tetap lebih panas karena efek pemanasan global.
Profesor Timo Vihma dari Institut Meteorologi Finlandia mengatakan bahwa negara-negara Nordik seperti Finlandia berpotensi mengalami penurunan suhu saat musim dingin. Meski begitu, ia menegaskan tidak akan terjadi “zaman es baru”.
Sejauh ini, para ilmuwan masih berbeda pendapat soal kemungkinan arus ini benar-benar berhenti total. Beberapa penelitian menunjukkan arus tetap akan bergerak, meski jauh lebih lemah.
.png)
9 hours ago
4















































