Riza Rajajowas
Teknologi | 2026-01-20 16:58:45
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto (sumber: https://www.instagram.com/kemensetneg.ri
BLITAR, 20 Januari 2026 – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tengah menggebrak dengan serangkaian kebijakan radikal yang dirancang untuk melipatgandakan produktivitas riset nasional hingga tahun 2026. Fokus utama tidak lagi hanya pada administrasi dana, tetapi pada insentif langsung kepada peneliti dan pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) secara masif, terutama di sektor kesehatan.
Langkah ini dipandang sebagai upaya mendesak untuk mengatasi ketertinggalan riset Indonesia, sekaligus memastikan investasi industri masa depan tidak terjebak dalam teknologi yang sudah usang (obsolete).
Perspektif Kebijakan: Meretas Birokrasi dengan Insentif Langsung
Salah satu terobosan paling signifikan yang diluncurkan Kemdiktisaintek adalah mekanisme pemberian insentif finansial langsung kepada dosen dan peneliti yang berhasil memenangkan hibah riset kompetitif, baik dari skala nasional maupun internasional. Kebijakan ini merupakan jawaban atas keluhan panjang komunitas akademik mengenai birokrasi dana riset yang rumit dan menghabiskan waktu produktif peneliti.
“Kami menyadari, waktu peneliti seharusnya dihabiskan di laboratorium atau lapangan, bukan di meja administrasi,” ujar seorang pejabat tinggi Kemdiktisaintek dalam sebuah diskusi panel. “Mulai tahun anggaran mendatang, insentif ini berfungsi sebagai penghargaan dan modal kerja cepat, disalurkan langsung tanpa melalui proses administrasi kampus yang berjenjang dan lambat.”
Tujuan utama dari mekanisme baru ini adalah memutus mata rantai birokrasi yang sering memperlambat pencairan dana dan implementasi riset. Insentif ini berbeda dari dana operasional proyek yang tetap dikelola institusi, melainkan ditujukan untuk memberikan fleksibilitas finansial yang cepat kepada individu peneliti untuk kebutuhan esensial dan non-struktural. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah proposal riset berkualitas tinggi dan memotivasi peneliti agar lebih fokus pada output substansial, seperti paten dan publikasi bereputasi internasional.
Perspektif Inovasi dan Kesehatan: AI Medis dalam GenggamanSektor kesehatan menjadi pilot project utama dalam agenda akselerasi teknologi Indonesia. Perkembangan paling hangat adalah penetrasi AI dalam layanan diagnostik dan manajemen rekam medis.
Indonesia secara agresif menjalin kerja sama internasional, terutama dengan Tiongkok, untuk mengakselerasi pengembangan AI medis. Kemitraan ini fokus pada transfer teknologi dalam dua area krusial:
- Sistem Diagnostik Berbasis Citra: Pengembangan algoritma AI untuk mendeteksi penyakit kompleks, seperti kanker dan kelainan neurologis, dari hasil MRI, CT scan, atau X-ray dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan diagnostik manual.
- Digitalisasi Layanan Kesehatan dan Rekam Medis Elektronik (RME): Pemanfaatan machine learning untuk mengolah data pasien dalam jumlah besar, memprediksi wabah penyakit, dan mengoptimalkan manajemen rantai pasok obat dan logistik rumah sakit di daerah terpencil.
Inovasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi rumah sakit, tetapi juga mengatasi kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Dengan AI medis, kualitas diagnostik standar kota besar dapat diakses melalui telemedis di puskesmas pelosok.
Perspektif Strategis: BRIN Memandu Investasi Masa Depan
Mengingat cepatnya perubahan teknologi global, BRIN memegang peran vital sebagai 'kompas' strategis bagi pemerintah dan industri. BRIN kini fokus menyusun Future Technology Forecast (FTF) untuk periode 2030 hingga 2050.
Laporan FTF ini merupakan roadmap yang kritis bagi Pelaku Industri dan Investor. Indonesia perlu memastikan bahwa investasi besar-besaran yang dilakukan hari ini, khususnya di sektor manufaktur, energi, dan digital, tidak menghasilkan pabrik atau infrastruktur yang berbasis teknologi lima hingga sepuluh tahun yang lalu.
“Tantangan terbesar kita adalah menghindari obsolesensi industri,” tegas Kepala BRIN. “FTF 2030-2050 akan mengidentifikasi critical technologies seperti Quantum Computing, Advanced Materials, dan Sustainable Energy Systems yang harus menjadi target investasi nasional. Jika kita berinvestasi di teknologi yang sudah mapan (legacy technology), kita akan selalu tertinggal dalam daya saing global.”
BRIN bekerja sama dengan asosiasi industri untuk mengarahkan alokasi modal agar selaras dengan tren global, memastikan ekosistem industri Indonesia siap menghadapi revolusi teknologi yang akan datang, bukan yang sudah berlalu.
Perspektif Lingkungan: Merespons Krisis Iklim dan Tanah
Selain fokus pada teknologi maju, agenda riset nasional tetap teguh pada isu-isu lingkungan yang mendesak. Dua fokus utama yang sedang digarap oleh para peneliti adalah:
- Riset Mikroplastik Laut Dalam: Indonesia, sebagai negara maritim terbesar, menghadapi tantangan besar terkait polusi plastik. Penelitian terkini difokuskan pada pemetaan sebaran mikroplastik di laut dalam dan dampaknya pada biota laut. Temuan terbaru menunjukkan konsentrasi mikroplastik yang mengkhawatirkan di Zona Hadal (palung laut), yang menuntut kebijakan pengelolaan sampah yang jauh lebih ketat dan teknologi bioremediasi yang inovatif.
- Pengelolaan Tanah dan Fenomena Sinkhole: Pembangunan infrastruktur dan eksploitasi air tanah yang berlebihan di beberapa daerah telah meningkatkan risiko fenomena *sinkhole* (lubang runtuhan). Riset kolaboratif antara geolog dan ahli sipil kini difokuskan pada pemodelan prediksi kerentanan tanah dan pengembangan teknik konstruksi yang adaptif terhadap kondisi geologi, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera yang padat populasi.
Pandangan
Pergeseran kebijakan Kemdiktisaintek menuju insentif langsung, ambisi BRIN dalam memproyeksikan masa depan teknologi, dan adopsi agresif AI di sektor kesehatan menandai era baru dalam ekosistem sains dan teknologi Indonesia. Transformasi ini bukan hanya tentang meningkatkan anggaran, tetapi tentang mendefinisikan kembali nilai seorang peneliti dan memastikan bahwa riset nasional berfungsi sebagai pendorong utama kemajuan industri, kesehatan, dan ketahanan lingkungan di Indonesia. Seluruh pemangku kepentingan, dari akademisi hingga investor, kini menanti implementasi efektif kebijakan-kebijakan revolusioner ini pada tahun-tahun mendatang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
1



































