Maulana Rizqy Ramadana
Edukasi | 2026-07-04 20:16:20
Pada pandangan sosiologis pendidikan kontemporer, tidak bisa lagi dipandang sebagai tembok besar yang seolah-olah tidak bisa ditembus oleh penyusup kapitalisme lebih lanjut. Namun sebaliknya, ruang kelas telah beradaptasi menjadi pusat dan sarang dari apa yang disebut sebagai kapitalisme pengawasan. Kapitalisme pengawasan pada era digital memang tidak bisa di hindari. Pada faktanya komersialisasi pendidikan bukan hanya baru terjadi pada era digital.
Era digital hanya memulai babak baru komersialisasi pendidikan. Perhatian menjadi komoditas penting dalam bisnis digital. Pada saat aktivitas belajar dan mengajar berubah menjadi tontonan publik. Kurikulum tidak lagi hanya berupa dokumen tertulis yang disebarkan oleh pemerintah, melainkan berubah bentuk menjadi skema media sosial yang menuntun bagaimana guru dan murid harus menyesuaikan diri di depan kamera demi pengumpulan modal digital yang seolah-olah akan modal tersebut menjadi sumber kehidupan mereka. Pada literatur ekonomi liberal kegunaan dari lembaga komersial itu sendiri adalah menerapkan prinsip perilaku sebagai produsen. Produksi dalam ekonomi liberal ditujukan untuk "Profit Maximalizing" dengan meraup keuntungan sebanyak mungkin.
Ilustrasi Komersialisasi Pendidikan di Era Digital
Sebenarnya komersialisasi pendidikan tidak hanya terjadi pada era digital seperti sekarang, tetapi sejak dulu pendidikan memang menjadi ladang meraup keuntungan yang besar. Hal itu terjadi sejak didirikannya lembaga sekolah tersebut, dengan biaya pendaftaran dan biaya gedung hingga seragam, ini sudah memasuki babak komersialisasi dalam pendidikan. Pada saat aktivitas belajar dan mengajar berubah menjadi tontonan publik. Kurikulum tidak lagi hanya nerupa dokumen tertulis yang disebarkan oleh pembuat peraturan, melainkan berubah bentuk menjadi skema media sosial yang menuntun bagaimana guru dan murid harus menyesuaikan diri di depan kamera demi pengumpulan modal digital yang seolah-olah akan modal tersebut menjadi sumber kehidupan mereka. Hal yang memprihatinkan terjadi ketika banyak masyarakat yang tidak mampu membeli seragam pada saat tahun ajaran baru atau membayar biaya bulanan.
Dari awal tujuan pendidikan fokus pada pengembangan karakter dan pemahaman kritis, sekarang pendidikan malah semakin digiring untuk tujuan-tujuan ekonomi. Institusi pendidikan berkompetisi menawarkan program dan menjual janji memberikan kesuksesan karir yang belum tentu dicapai semua orang. Ini mengikis tujuan pendidikan dalam pembentukan manusia yang berpikir rasional dan berani untuk kritis
Fenomena maraknya pembuatan konten digital yang diunggah pada platform media sosial seperti Tiktok, YouTube Shorts, atau Instagram di lingkungan sekolah ini menandakan bahwa interaksi belajar menjadi hubungan antara dua pihak yang menjalankan badan usaha dan memilki tanggung jawab tanpa batas (komanditer). Ruang digital sekarang sengaja membuat hubungan pedagogis antara guru dan murid menjadi lebih umum. Hubungan ini secara harfiah dan sejatinya sangat pribadi dan memerlukan ruang aman untuk keasalahan. Sekarang berfungsi sebagai studio produksi gratis. Ruang kelas yang semula memiliki fungsi sebagai laboratorium sosial tempat para siswa dilatih secara alami.
Menurut pandang Sosiologis, momen nyata di kelas, mulai dari kepolosan siswa yang lucu hingga jawaban yang salah membuat tawa, hingga ekspresi emosional anak-anak, dirubah dan dikemas secara sosiologis dengan tujuan meningkatkan nilai jual (branding) institusi sekolah dengan mengumpulkan like atau fitur ikuti pada setiap postingan. Proses pendidikan sekarang di nilai berdasarkan seberapa viral atau terkenal video di internet daripada kedalaman kognitif atau kematangan afektif siswa. Akibatnya, standarisasi visual terjadi, di mana aktivitas belajar yang nyata sering dikorbankan untuk memenuhi selera atau pangsa pasar digital yang tidak berbobot.
Dampak paling nyata dan berbahaya dari perubahan digital ini bekerja melalui mekanisme sinkronisasi tersembunyi (kurikulum tersembunyi). Ketika siswa menekan dan memaksa untuk hidup di bawah sorotan kamera setiap hari, mereka secara tidak sadar sedang menyerap ideologi pasar yang sangat berbahaya. Kurikulum tersembunyi ini secara halus mendidik siswa bahwa aspek-aspek paling mendasar dari kemanusiaan mereka (seperti privasi, kerentanan emosional, proses belajar terseok-seok, hingga ekspresi diri yang jujur) adalah aset barang yang sah untuk dieksploitasi demi memberi makan algoritma media sosial.
Dididik dengan "ekonomi perhatian" (attention economy) yang diperkenalkan oleh Herbert A. Simon yang memiliki pengertian bahwa perhatian manusia merupakan barang langka, dalam konsep ini perhatian dijadikan "mata uang" dimana harga diri, validasi sosial, dan pengakuan eksistensial mereka dihitung dengan angka statistik di layar. Sekolah seharusnya mendidik siswa tentang hak privasi dan batasan etis. Namun hal-hal ini menjadi sumber utama yang menormalisasi hilangnya privasi tersebut. Moral pendidikan dirusak oleh budaya pamer, budaya yang bukan bersumber dari pribadi tapi bentukan budaya konsumerisme dan pencitraan. Dalam pandangan simbolik dan interaksionisme dari George Herbert Mead dan Erving Goffman menyebutkan bahwa tindakan pamer adalah komunikasi simolik yang menunjukkan citra diri dihadapan khalayak ramai.
Ini mengajarkan siswa untuk selalu siap tampil, memanipulasi ekspresi mereka demi kamera, dan melihat diri mereka sebagai produk visual yang siap dikonsumsi publik daripada subjek manusia yang utuh.
Puncak dari komersialisasi ruang kelas ini adalah terjadinya penyimpangan hebat pada hubungan kekuasaan antara pendidik dan peserta didik. Hubungan antar pribadi yang seharusnya dilandaskan pada asas emansipatoris, empati, dan bimbingan yang tulus. Guru yang memiliki kekuasaan struktural di kelas rentan terjebak dalam situasi di mana mereka menjadi seorang sutradara yang tidak bertanggung jawab. Fokus guru terbelah. Mereka tidak lagi sepenuhnya memperhatikan masalah psikologis atau tantangan belajar siswa yang sebenarnya, tetapi berkonsentrasi pada sudut kamera yang dramatis atau pencahayaan yang menarik.
Dalam konteks ini, murid kehilangan arti dan hak memilih mereka secara mutlak. Karena ketimpangan kekuasaan, siswa tidak memiliki posisi tawar menawar untuk menolak ketika wajah dan aktivitas mereka direkam. Mereka diposisikan sebagai barang dan tenaga kerja gratisan (tenaga kerja tidak berbayar) yang dieksploitasi demi kinerja akun pribadi sang guru atau kepentingan finansial sekolah. Hubungan pedagogis yang manusiawi akhirnya hancur, digantikan dengan bentuk baru eksploitasi simbolik yang mengikis martabat anak-anak demi pemuasan nafsu popularitas di ruang digital.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
1





































