Tekanan Dolar AS Dinilai Jadi Faktor Utama Pelemahan Mata Uang Asia

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai lebih dipengaruhi faktor eksternal dibanding persoalan fundamental ekonomi domestik. Tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara Asia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pengamat ekonomi Surya Vandiantara mengatakan, penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya sentimen pasar akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan instrumen investasi ke dolar AS yang dianggap lebih aman.

“Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan investor dan pelaku bisnis memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibanding mata uang negara lain. Tingginya permintaan terhadap dolar AS inilah yang kemudian membuat nilainya menguat,” kata Surya dalam keterangannya.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan rupiah sejak awal konflik AS-Iran tercatat sekitar 3,65 persen. Angka itu masih lebih rendah dibanding sejumlah mata uang negara lain seperti peso Filipina yang melemah 6,58 persen dan baht Thailand sebesar 5,04 persen.

Selain itu, rupee India tercatat melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sementara won Korea Selatan turun sekitar 2,29 persen.

Surya menilai, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi dinamika global ketimbang faktor dalam negeri. Menurut dia, stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional dan surplus neraca perdagangan dengan AS menjadi indikator fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.

“Ini mempertegas bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan faktor internal, melainkan lebih dominan oleh faktor eksternal,” ujar pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu tersebut.

Terkait langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, Surya menilai kebijakan yang ditempuh otoritas moneter merupakan strategi jangka pendek untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik.

Menurut dia, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan bank sentral, tetapi juga memerlukan dukungan pelaku pasar dan dunia usaha agar tetap memprioritaskan penggunaan rupiah dalam aktivitas transaksi dan investasi.

Ia mengingatkan, pelemahan rupiah yang berlangsung berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya impor, termasuk bahan baku dan alat produksi industri dalam negeri. Dampaknya, harga barang produksi dapat ikut naik dan menekan daya serap pasar.

“Karena itu diperlukan kesadaran bersama untuk menahan tekanan depresiasi rupiah,” katanya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |