REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selama puluhan tahun, Eropa tidur dengan nyenyak. Amerika Serikat selalu ada di balik punggung mereka, siap melindungi jika ancaman datang. Namun kini, rasa aman itu mulai goyah, bukan hanya karena Rusia, tetapi juga karena Amerika sendiri. Itulah kegelisahan besar yang kini tengah melanda para pemimpin Eropa.
Sejak Perang Dunia II berakhir hampir 80 tahun lalu, Amerika Serikat menjadi tulang punggung keamanan Eropa melalui NATO, organisasi pertahanan bersama yang berdiri di atas satu keyakinan sederhana: jika salah satu anggota diserang, semua anggota akan membela.
Selama puluhan tahun, keyakinan itu tidak pernah diragukan. Namun di bawah Presiden Donald Trump, sesuatu mulai berubah. Washington mengambil langkah yang mengejutkan banyak pihak: menarik sekitar 5.000 tentara Amerika dari Jerman. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti urusan teknis militer biasa. Namun bagi para pemimpin Eropa, langkah itu adalah sinyal yang jauh lebih dalam, bahwa 'Paman Sam' mulai mengurangi keterlibatannya di Eropa.
Analis senior Paul Taylor dalam tulisannya di The Guardian menyebut para pemimpin Eropa kini mulai mempertanyakan sesuatu yang dulu tak pernah terlintas di pikiran mereka: bagaimana jika suatu hari Amerika benar-benar tidak lagi menjadi pelindung utama Eropa
Terjepit di Antara Dua Ketakutan
Masalahnya, Eropa tidak bisa begitu saja berpaling dari Amerika. Ketergantungan itu sudah sangat dalam.
Dalam hal senjata nuklir, jaringan mata-mata, pengiriman logistik militer, hingga teknologi satelit, Eropa masih sangat mengandalkan Amerika. Membangun semua itu sendiri butuh waktu puluhan tahun dan biaya yang luar biasa besar.
Di saat yang sama, ancaman dari Rusia tidak menunggu. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, negara-negara Eropa yang berbatasan langsung dengan Rusia, seperti Polandia, Estonia, Latvia, dan Lithuania, hidup dalam kecemasan yang nyata. Mereka tahu betul apa artinya punya tetangga yang agresif dan bersenjata lengkap. Hasilnya, Eropa kini terjepit di antara dua ketakutan sekaligus: takut terhadap Rusia di timur, takut kehilangan Amerika di barat.
Jerman Bangkit, Eropa Berubah
Kegelisahan itu mendorong perubahan besar yang bahkan beberapa tahun lalu sulit dibayangkan. Jerman, negara yang selama puluhan tahun sengaja membatasi kekuatan militernya sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tragedi Perang Dunia II, kini justru didorong untuk menjadi kekuatan pertahanan terbesar di Eropa.
Taylor mencatat bahwa Berlin menargetkan pembangunan angkatan darat konvensional terkuat di Eropa pada 2039. Sebuah pembalikan arah yang luar biasa dari negara yang selama hampir satu abad berusaha menjauh dari citra militer.
Negara-negara Eropa lainnya pun mulai menaikkan anggaran pertahanan mereka. Pabrik senjata beroperasi lebih cepat. Wajib militer yang sempat dihapus di beberapa negara mulai dipertimbangkan kembali.
.png)
3 days ago
18















































