REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Memasuki era digital 2026, persaingan dunia kerja semakin kompetitif dan menuntut mahasiswa memiliki lebih dari sekadar nilai akademik. Di tengah derasnya transformasi digital, personal branding kini menjadi faktor penting yang menentukan apakah seorang lulusan mampu dikenal, diingat, dan dilirik oleh dunia industri.
Perubahan lanskap rekrutmen membuat perusahaan tidak lagi hanya menilai kandidat dari CV formal. Jejak digital, portofolio online, hingga citra profesional di media sosial kini menjadi bagian dari pertimbangan penting dalam proses seleksi.
Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menegaskan personal branding telah menjadi kebutuhan strategis bagi mahasiswa di era modern.
“Mahasiswa hari ini tidak hanya bersaing dengan teman sekelasnya, tetapi dengan banyak orang di luar sana. Personal branding membuat seseorang lebih mudah dikenal, diingat, dan memiliki positioning yang kuat di mata industri,” ujarnya, Ahad (3/5/2026).
Menurut Bryan, membangun personal branding idealnya dimulai sejak masih duduk di bangku kuliah, bukan setelah lulus.
“Justru sejak menjadi mahasiswa adalah waktu terbaik untuk mulai membangun citra diri, baik melalui media sosial profesional, portofolio digital, maupun karya nyata yang dapat menunjukkan kompetensi,” kata dia.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan personal branding sejak awal perkuliahan melalui berbagai program pengembangan diri, pembelajaran berbasis proyek, serta aktivitas yang mendorong mahasiswa aktif berkarya dan tampil di ruang digital.
Fenomena ini semakin relevan seiring berkembangnya platform seperti LinkedIn, Instagram, GitHub, hingga berbagai media portofolio digital yang memungkinkan mahasiswa menampilkan kompetensi mereka secara terbuka kepada publik dan recruiter.
Tren industri juga menunjukkan bahwa individu dengan personal branding yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan, memperluas jejaring profesional, hingga membangun peluang usaha secara mandiri. Munculnya profesi baru seperti content creator, digital marketer, social media strategist, hingga personal consultant semakin menegaskan pentingnya identitas profesional di era digital.
Bryan menekankan personal branding bukan sekadar soal pencitraan, tetapi tentang bagaimana seseorang menunjukkan nilai dan kompetensi secara autentik.
“Personal branding bukan sekadar pencitraan, tetapi bagaimana seseorang menunjukkan value, karakter, dan keahliannya secara nyata. Konsistensi dan keaslian adalah kunci utama,” kata dia.
Ia juga menilai kampus memiliki tanggung jawab besar dalam membantu mahasiswa membangun identitas profesionalnya.
“Kampus harus memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, berekspresi, dan menunjukkan potensinya melalui proyek, organisasi, kompetisi, maupun platform digital yang relevan,” ucap Bryan.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik, integrasi teknologi, dan penguatan kreativitas mahasiswa, UNM terus mempertegas komitmennya sebagai Kampus Digital Bisnis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap tampil dan bersaing di era digital.
Di tengah kompetisi global yang semakin terbuka, personal branding bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Mahasiswa yang mampu membangun citra diri sejak dini akan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar dalam menatap masa depan karier maupun bisnis.
.png)
3 hours ago
4
















































