REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mungkin, pembahasan tentang masa penjajahan Belanda atas Indonesia dalam abad ke-19 dan 20 tidak akan lengkap tanpa menyertakan sosok Christiaan Snouck Hurgronje. Pengaruhnya cukup besar dalam mengukuhkan kolonialisme di Bumi Pertiwi pada masa tersebut. Bahkan, perannya diakui sebagai peletak dasar politik kolonial dalam menghadapi perjuangan Islam di tanah jajahan—Hindia Belanda.
Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda (1986) menuturkan, Christiaan lahir pada 8 Februari 1857. Keluarga lelaki kelahiran Oosterhout, Belanda, itu tergolong pemuka agama Kristen. Suatu sumber menyebut, sebelum menjadi pemeluk Protestan yang taat keluarga besarnya berdarah Yahudi yang berasimilasi sejak tinggal di Negeri Kincir Angin.
Ayah Christiaan merupakan seorang pendeta Kristen bernama JJ Snouck Hurgronje. Menurut Suminto, JJ Snouck telah beristri saat menjalin hubungan gelap dengan Anna Maria, yakni putri rekan sejawatnya, Pendeta Ds Christiaan de Visser. Empat orang anak lahir dari jalinan asmara tersebut.
Di antaranya adalah Christiaan Snouck Hurgronje sebagai anak keempat. Skandal perselingkuhan itu akhirnya terkuak. JJ Snouck pun dipecat dari Gereja Herformd di Zeeland pada 3 Mei 1849. Sesudah istri pertamanya meninggal dunia pada 31 Januari 1855, JJ Snouck menikah secara resmi dengan Anna Maria.
Nama depan Christiaan Snouck Hurgronje tampaknya terinspirasi dari kakeknya, Christiaan de Visser. Hal ini seakan-akan mengakui reputasi dari garis keturunan ibunya. Buyutnya—ayah kakeknya—adalah Ds J Scharp, seorang pendeta sekaligus orator ulung di Rotterdam.
Pada 1824, Scharp merampungkan Korte schets over Mohammed en de Mohammedanen: Handleiding voor de kwekelingen van het Nederlandsche Zendelinggenootschap (‘Gambaran sekilas tentang Muhammad dan Pengikut Muhammad: Panduan bagi Misionaris Belanda dalam Memengaruhi Masyarakat’). Dengan karyanya itu, si penulis berupaya mengurai “kelemahan-kelemahan” Islam. Buku tersebut menjadi salah satu bacaan wajib bagi calon misionaris Kristen dari kota setempat.
Christiaan Snouck Hurgronje kecil tumbuh menjadi anak yang serba ingin tahu. Sebagai murid sekolah menengah (hogereburgerschool) di Breda, ia belajar menguasai bahasa Latin. Selanjutnya, remaja 17 tahun itu terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden. Empat tahun lamanya ia menempuh studi di Fakultas Teologi.
Selama di kampus, ia menaruh minat terhadap pandangan modern dalam memahami ilmu teologi. Kecenderungan demikian tak lepas dari pengaruh pemikiran para tokoh modernis masa itu, semisal Abraham Keunen (1828-1891).
Dari Keunen, Christiaan belajar tentang analisis kritis dan rasional atas Perjanjian Lama dan Bibel. Dalam batas-batas tertentu, metode itu cukup kontroversial karena menolak beberapa elemen ajaran Kristen. Misalnya, penolakan terhadap posisi Yesus sebagai “anak” tuhan atau konsep trinitas. Aliran pemikiran ini sangat dipengaruhi liberalisme sekaligus Darwinisme.
Paham itu memandang agama hanyalah kesadaran etis yang timbul dari diri manusia. Eropa (Barat) dan Kristen juga dipandang sebagai puncak evolusi kebudayaan umat manusia. Alhasil, bangsa-bangsa Asia harus “diperadabkan” Barat.
Para orientalis yang berpaham demikian mengecap Islam sebagai penyimpangan atas ajaran Yesus. Maka dari itu, mereka menyebut Islam dengan istilah peyoratif: Mohammedanism, ‘ajarannya Muhammad.’
Pada April 1878, Christiaan lulus sehingga berhak menyandang gelar sarjana muda. Ia kemudian memutuskan tak lagi mengejar karier sebagai calon pendeta, melainkan ahli ilmu-ilmu Timur (Oriental).
Sejak saat itu, ia mulai mempelajari filologi Semit, terutama dari dua orientalis tersohor Belanda, Reinhard Dozy dan MJ de Goeje. Atas saran de Goeje, ia tinggal di Strasbourg, Prancis, untuk belajar bahasa Arab dan Aramaik dari ahli kebudayaan Semit, Theodor Noldeke (1836-1930).
Pada 1880, Christiaan berhasil mempertahankan disertasinya, Het Mekkansche Feest (‘Perayaan Makkah’). Pemuda 23 tahun itu pun lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor ilmu sastra Semit dari Universitas Leiden. Setelah itu, ia menjadi pengajar pada lembaga pendidikan khusus calon pegawai yang akan dikirim ke Hindia Belanda.
Menjadi mata-mata
Sejak masih berupa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC/Kompeni), penjajahan Belanda di Nusantara umumnya menghadapi perlawanan dari umat Islam. Para haji merupakan motor penggerak jihad kaum Muslimin. Sepanjang abad ke-18, Kompeni memberlakukan pelbagai aturan yang merintangi atau bahkan mencegah pemuka-pemuka Muslim untuk pergi ke Tanah Suci.
Bagaimanapun, tak sedikit yang lolos. Selama di luar negeri, jamaah haji asal Nusantara mendapatkan inspirasi dari sejumlah ulama Jawi yang bermukim di Haramain. Misalnya, Syekh Abdus Samad al-Palimbani (1704-1789). Alim tersebut menulis Fadha’il Jihad (‘Keutamaan Jihad’).
Di dalamnya, ia menegaskan, kaum Muslimin wajib berjihad melawan kaum kafir yang datang menindas. Kitab ini diterima dengan antusias umat Islam di Tanah Air. Di Aceh, umpamanya, karya sang syekh mengilhami Hikayat Prang Sabi yang mengobarkan semangat perjuangan rakyat, ulama, sekaligus umara setempat dalam melawan Belanda.
.png)
7 hours ago
5
















































