Saat 'Gugur Bunga' Menguar di Jakarta

16 hours ago 8

Pada 12 Mei, 28 tahun lalu, darah tumpah dan mengubah sejarah. Bunga-bunga bangsa, berguguran di Jakarta. Empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur dan memicu rangkaian kejadian yang membentuk Indonesia ke depannya.

Pada masa saat belum ada media sosial, bagaimana masyarakat menyampaikan kemarahan?

"Selasa 12 Mei itu cinta dibalas teror

Tangkai-tangkai mawar bertukar pelor---beratus pelor" -- Penggalan puisi duka Yudhistira ANM Massardi

Pada malam hari selepas penembakan, pernyataan rasa duka cita seperti tulisan Yudhis di atas tak henti-hentinya mengalir dari masyarakat ke Republika. Ratusan lembar kertas faksimili menumpuk di meja redaksi dan telepon hampir setiap menit berdering.

Semuanya menyatakan keprihatinan mendalam dan turut berduka cita atas meninggalnya enam pahlawan reformasi, mahasiswa Universitas Trisakti.

Sebagian mengirim rasa duka mengatasnamakan pribadi, mulai dari ibu-ibu yang mengaku punya anak mahasiswa sampai anggota DPR RI. Banyak pula yang mengatasnamakan organisasi kemasyarakatan, seperti Gema Madani yang dikomandani Emil Salim.

Bahkan, tak jarang yang mengatasnamakan perusahaan. Karyawan Medco, misalnya, menyertakan puluhan tanda tangan karyawannya sebagai ungkapan duka.

Isi pernyataan hampir seragam. Pertama, mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya kepada enam mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur dalam perjuangan menuntut reformasi.

Kedua, memberi semangat pada mahasiswa agar tidak putus asa memperjuangkan idealisme dan aspirasinya. Dan, ketiga mengutuk aparat yang semena-mena memperlakukan mahasiswa.

Bukan cuma Republika yang kebanjiran pernyataan duka cita. Hampir setiap meja redaksi media cetak, radio, dan televisi, mendapatkan pernyataan belasungkawa dari rakyat Indonesia. Bahkan, hampir semua stasiun radio, tiap selesai memutarkan lagu selalu membacakan pernyataan belasungkawa masyarakat yang terus-menerus datang.

Beberapa radio membuka saluran telepon langsung siar (on air). Pro-2 FM, misalnya, sekalipun milik RRI, tapi dengan bebas memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengutarakan pendapatnya tentang Tragedi Trisakti. "Mahasiswa itu modalnya buku dan otak, masak lawannya peluru dan otot," kata seorang pendengar setianya.

Trijaya FM, yang seperti biasanya membacakan berita pagi untuk koran-koran pagi Jakarta, kemarin, dibacakan sebagian dari ratusan faksimili duka cita yang masuk. Bahkan, seorang penyiarnya tak kuasa menahan harunya sehingga terdengar sesenggukan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |