Rupiah Awet Bertahan di Atas Rp 18.000 per Dolar AS Selama Sepekan

9 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bertahan di atas level Rp 18.000 per dolar AS dalam sepekan terakhir. Fluktuasi rupiah terjadi seiring kembali memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah sempat terjadi "perdamaian semu".

Rupiah kembali menembus level Rp 18.000 pada Rabu (8/7/2026), tepatnya di posisi Rp 18.005 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah serangan militer AS terhadap Iran sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang AS yang melintasi Selat Hormuz.

Hingga sepekan kemudian, Rabu (15/7/2026), rupiah masih berada di atas level psikologis tersebut. Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda menguat 23 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp 18.068 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi fluktuasi rupiah, baik dari faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal, dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sentimen terkuat. Presiden AS Donald Trump dikabarkan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sementara itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.

Teheran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah permusuhan dengan AS kembali berkobar pekan lalu. Kondisi tersebut semakin memperburuk gencatan senjata yang dicapai pada Juni 2026 setelah beberapa bulan pertempuran.

Tentara Iran pada Rabu pagi menyatakan telah melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di Pangkalan Azraq, Yordania. Belum ada komentar resmi dari Pentagon. Korps Garda Revolusi Islam Iran juga dikabarkan menargetkan persenjataan dan fasilitas penyimpanan di Bahrain serta Kuwait.

"Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran," kata Ibrahim.

Selain sentimen geopolitik, data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juli 2026 tercatat turun dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan perkiraan sebesar 3,8 persen.

"Ini merupakan indikasi bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak diperlukan," ujarnya.

Sementara itu, inflasi inti turun dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebesar 2,8 persen.

"Para pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16 persen dari 40 persen, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 60 persen dari 74 persen," jelasnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |