Respons Bupati Jeje Usai Saksikan Anak 11 Tahun yang Punya Kebiasaan Makan Dedaunan

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyebutkan, Pemkab Bandung Barat bakal memberikan perhatian lebih terhadap Muhammad Rizki (11), anak disabilitas yang memiliki kebiasaan memakan dedaunan.

Ia mengecek langsung kondisi Kiki, sapaan akrab Rizki di Kampung Babakan Cianjur, RT 04/07 Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Jeje berbincang dengan ayah Kiki, Asep Setiawan (45) dan keluarga lainnya.

"Berdasarkan keterangan keluarganya, memang Rizki sudah lama punya kebiasaan makan rumput dari tujuh tahun lalu," kata Jeje.

Dirinya sudah menginstruksikan Dinas Sosial (Dinsos) KBB memfasilitasi agar Kiki dan keluarganya masuk daftar penerima bantuan ragam program baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Jeje juga meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan pemeriksaan kesehatan bocah tersebut. "Nanti emang ada pendampingan dari Dinsos, Disduk dan Dinsos akan jemput bola mengecek kesehatan Rizki. Takutnya dikhawatirkan ada bakteri karena makan rumputnya kan langsung tanpa di cuci atau apa. Nanti kami akan sekolahkan juga Rizki," ujar Jeje.

Jeje juga meminta seluruh aparatur pemerintahan dari mulai tingkat desa, kecamatan hingga di tingkat pemerintah daerah untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya. Sehingga kondisi yang dialami Rizki ini bisa mendapat perhatian.

"Nanti ke depannya permasalahan seperti ini tidak harus nunggu viral. Jadi dari kecamatan maupun dari pihak desa mengidentifikasi sehingga sudah tahu hal-hal seperti atau di wilayahnya warga mana yang membutuhkan perhatian khusus," kata dia.

Kepala Dinas Sosial KBB Idad Saadudin menambahkan, pihaknya segera mengusulkan ke Kementerian Sosial agar Rizki dan keluarganya masuk Data Terpadu Sosial Ekonomi (DTESN) desil 1-5. Usulan sebelumnya terkendala karena nomor induk kependudukan (NIK) Rizki masih menyatu dengan ibunya di daerah lain.

"Kemarin masih ikut NIK ibunya, sekarang harus dipisah dan ikut ke KK ayahnya. Untuk penyesuaian desil agar masuk ke desil 1 sampai 5 karena asalnya desil 6. Nah, kami akan usulkan itu," jelas Idad.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Wyata Guna Bandung untuk memberikan pendampingan terhadap kondisi Rizki.

"Untuk pembinaan kami rekomendasikan ke Wyata Guna untuk rehabilitasi tunawicara dan intelektual yang lemah. Mudah-mudahan hanya dua itu, tidak bertambah lagi. Mudah-mudahan keluarganya juga bisa mem-backup dalam hal pendampingan," kata Idad.

Cerita orang tua tentang kondisi Rizki

Kiki, sapaan akrab Muhammad Rizki merupakan anak penyandang disabilitas dengan gangguan mental dan tunawicara. Ia tinggal bersama ayahnya, Asep Setiawan (49), serta neneknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.

"Betul anak saya Kiki punya kebiasaan memakan dedaunan, dari rumput sampai daun apa saja di sekitarnya. Tapi dia tahu mana yang beracun dan tidak," tutur Asep.

Asep menceritakan, kebiasaan Kiki memakan daun mulai diketahui sejak usia empat tahun. Saat itu, ia masih tinggal mengontrak di wilayah Bunisari, Gadobangkong, dan bekerja sebagai penjual sandal keliling untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Suatu hari, Asep dan Kiki berkeliling menjajakan dagangan sejak pagi tanpa sempat sarapan. Menjelang siang, karena dagangan belum laku dan perut lapar, Asep memutuskan pulang untuk mencari makanan.

Ia sempat meninggalkan Kiki di kamar kontrakan dalam keadaan terkunci. "Waktu saya balik bawa nasi dari orang tua, saya lihat Kiki lagi makan daun talas di dalam kamar. Ternyata dia bawa dari luar dan disimpan di sakunya," kata Asep.

Sejak saat itu, Asep menyadari anaknya memiliki kebiasaan tersebut dan masih bertahan hingga saat ini meski ia berusaha melarangnya. Di tengah keterbatasan ekonomi, Asep mengaku terus berupaya memberikan makanan layak bagi anaknya, dengan bantuan dari orang tuanya.

"Memang ada dua faktor. Pertama karena keterbatasan mentalnya. Kedua karena faktor ekonomi," ucap Asep.

Kondisi anaknya yang membutuhkan perhatian lebih ini memaksa Asep tidak bisa bekerja secara penuh karena harus merawat Kiki setiap hari, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga mengawasi aktivitasnya.

Ironisnya, Asep mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun bantuan lainnya. Ia berharap ada perhatian dari pihak terkait agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan dan terapi yang laiak.

"Harapan saya anak saya bisa sekolah dan dapat terapi atau pengobatan. Sekarang belum bisa karena terkendala biaya. Saya susah kerja karena kalau tidak dijaga, dia bisa pergi dan tidak tahu jalan pulang," kata Asep. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |