Ilustrasi tadabur Alquran.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada doa-doa yang lahir dari kemarahan. Ada pula doa yang lahir dari luka panjang yang dipendam dalam kesabaran. Doa Nabi Musa dalam Surah Ad-Dukhan ayat 22 termasuk yang kedua.
فَدَعَا رَبَّهُۥٓ أَنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمٌ مُّجْرِمُونَ
“Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa.’”
Ayat ini pendek, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan seorang nabi yang telah terlalu lama mengetuk pintu hati manusia. Musa bukan datang membawa pedang.
Ia datang membawa cahaya. Ia berbicara, memperingatkan, menunjukkan mukjizat, dan mengajak Fir’aun serta kaumnya agar kembali kepada kebenaran. Namun yang ia hadapi bukan sekadar penolakan.
Yang berdiri di depannya adalah kesombongan yang telah membatu seperti gunung tua yang menolak runtuh meski berkali-kali dihantam petir langit.
Musa menyaksikan bagaimana kekuasaan dapat mengubah manusia menjadi buta. Fir’aun bukan hanya menolak beriman, tetapi menjadikan dirinya pusat semesta. Ia membangun singgasana di atas ketakutan rakyatnya.
Ia memperbudak, membunuh, dan menindas Bani Israil tanpa belas kasihan. Dalam dunia seperti itu, kebenaran terdengar asing, sementara kezaliman diperlakukan seperti hukum alam.
Namun menariknya, Musa tidak segera meminta kehancuran bagi mereka. Bertahun-tahun ia bersabar. Bertahun-tahun ia berdakwah. Seolah ia masih berharap ada satu celah kecil di hati Fir’aun yang belum sepenuhnya tertutup. Di situlah letak keindahan jiwa para nabi: bahkan kepada manusia sekejam Fir’aun pun, mereka masih menyimpan harapan akan hidayah. Sampai akhirnya tiba satu titik ketika langit seakan berkata: cukup.
Maka Musa pun berdoa. Tetapi perhatikan bagaimana ia berdoa. Ia tidak berkata, “Ya Allah, hancurkan mereka.” Ia hanya mengadukan keadaan mereka: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa.”
Begitu lembut. Begitu dalam. Seolah Musa menyerahkan semuanya kepada Allah tanpa amarah yang meledak-ledak. Ada kepasrahan di sana. Ada luka yang disampaikan dengan tenang. Ada seorang nabi yang telah melakukan semua yang ia mampu, lalu menyerahkan keputusan terakhir kepada Rabb semesta alam.
.png)
9 hours ago
4















































