Tonny Rivani
Gaya Hidup | 2026-06-22 17:11:21
Foto Ilustrasi Perempuan sedang Berpose di HP. (Pixabay)
Pada Aktivitas keseharian saat ini, Perempuan yang membuka sosial media TikTok, WhatsApp, Facebook dan Instagram di sela-sela kehidupan harian sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, tidak sedikit yang secara refleks memeriksa notifikasi media sosial sesaat setelah bangun tidur atau sebelum tidur malam. Media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari yang sering kali dilakukan tanpa disadari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang sosial baru tempat individu mencari informasi, hiburan, relasi, hingga pengakuan sosial. Di Indonesia, penggunaan internet dan media sosial terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang atau sekitar 79,5% dari total populasi. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan dunia digital.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang psikologi: apakah media sosial hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, atau pertanyaan tersebut menjadi penting karena berbagai fenomena sosial yang muncul saat ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh media sosial. Budaya membandingkan diri dengan orang lain, kebutuhan untuk selalu terlihat produktif, kecenderungan mencari validasi melalui jumlah likes dan views, hingga rasa cemas ketika tertinggal informasi menjadi pengalaman yang semakin umum dijumpai, khususnya pada kalangan remaja dan Kaum Perempuan.
Maksud Opini ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media sosial memengaruhi perubahan perilaku Kaum Perempuan melalui perspektif psikologi, sekaligus menelaah secara kritis apakah perubahan tersebut benar-benar merupakan dampak teknologi atau justru cerminan kebutuhan psikologis manusia yang mendapatkan ruang baru untuk diekspresikan.
Media Sosial sebagai Agen Perubahan Perilaku
Dalam psikologi sosial, perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial. Kehadiran media sosial menciptakan lingkungan sosial baru yang memungkinkan individu berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu. Melalui proses observasi, individu dapat mempelajari dan meniru berbagai perilaku yang mereka lihat di media sosial, mulai dari gaya hidup, cara berkomunikasi, hingga pola konsumsi.
Fenomena ini dapat dilihat dari munculnya berbagai tren yang dengan cepat menyebar melalui media sosial. Mulai dari tren berpakaian, pola konsumsi makanan, hingga gaya hidup tertentu sering kali menjadi viral dan diikuti oleh banyak orang. Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk perilaku kolektif masyarakat.
Pengaruh Sosial Media di Indonesia Terhadap Budaya Validasi
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia menyaksikan munculnya berbagai fenomena yang lahir dan berkembang melalui media sosial. Salah satunya adalah budaya flexing, yaitu kecenderungan menampilkan pencapaian, kekayaan, atau gaya hidup tertentu untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain.
Fenomena ini terlihat dari maraknya konten yang menampilkan liburan mewah, barang bermerek, pencapaian akademik, hingga kehidupan pribadi yang dikemas sedemikian rupa agar terlihat menarik. Tidak sedikit pengguna media sosial yang akhirnya merasa tertinggal ketika melihat orang lain tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif dibanding dirinya.
Menariknya, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali bukan representasi utuh kehidupan seseorang. Pengguna cenderung menampilkan bagian terbaik dari hidupnya dan menyembunyikan kesulitan yang sedang dihadapi. Akibatnya, media sosial menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain berjalan lebih baik daripada kehidupan kita sendiri.
Menurut pandangan penulis, persoalan utama bukan terletak pada kebiasaan membagikan pengalaman pribadi di media sosial. Masalah muncul ketika individu mulai menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk menilai nilai dirinya sendiri. Ketika harga diri mulai bergantung pada jumlah likes, komentar, atau pengikut, maka identitas diri menjadi sangat rentan terhadap penilaian sosial yang sifatnya sementara.
Dari perspektif psikologi, fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah sumber validasi individu. Jika sebelumnya pengakuan diperoleh melalui interaksi langsung dan hubungan sosial yang nyata, saat ini sebagian individu mulai mencari validasi melalui respons digital yang sebenarnya belum tentu mencerminkan penerimaan sosial yang sesungguhnya.
Pola Perilaku dalam Interaksi Sosial
Salah satu perubahan perilaku yang paling nyata adalah perubahan pola interaksi sosial. Sebelum perkembangan media sosial, interaksi lebih banyak dilakukan secara langsung melalui tatap muka. Saat ini, sebagian besar komunikasi dilakukan melalui pesan instan, komentar, unggahan, maupun fitur video daring.
Perubahan tersebut memberikan kemudahan dalam menjaga hubungan sosial. Individu dapat tetap terhubung dengan teman atau keluarga yang berada di lokasi berbeda. Namun, kemudahan ini juga menimbulkan konsekuensi psikologis tertentu.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang tinggi dapat mengurangi kualitas interaksi langsung. Individu mungkin memiliki banyak koneksi secara daring, tetapi tidak selalu memiliki hubungan yang mendalam secara emosional. Akibatnya, seseorang dapat tetap merasa kesepian meskipun memiliki banyak pengikut atau teman di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuantitas hubungan sosial tidak selalu sejalan dengan kualitas hubungan sosial yang dimiliki seseorang.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Cermin Diri
Salah satu perubahan perilaku yang paling signifikan akibat media sosial adalah meningkatnya kecenderungan melakukan perbandingan sosial (social comparison). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial memberikan kesempatan yang sangat luas bagi individu untuk mengamati kehidupan orang lain yang umumnya ditampilkan dalam bentuk yang positif dan ideal. Kondisi ini membuat proses membandingkan diri dengan orang lain menjadi lebih sering terjadi dibandingkan dalam interaksi sosial sehari-hari.
Penelitian Wang et al. (2017) menemukan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya upward social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan individu yang dianggap lebih unggul, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga diri dan kesejahteraan subjektif pengguna. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Pera (2018) yang menyatakan bahwa paparan terhadap representasi positif kehidupan orang lain di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan perasaan iri, yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis.
Fenomena tersebut cukup dekat dengan kehidupan Kaum Perempuan. Misalnya, ketika seseorang melihat teman seangkatannya telah lulus lebih cepat, mendapatkan pekerjaan impian, atau diterima dalam program pertukaran pelajar, muncul dorongan untuk membandingkan dirinya dengan pencapaian tersebut. Padahal, setiap individu memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.
Di sinilah letak paradoks media sosial. Platform yang awalnya dirancang untuk menghubungkan manusia justru terkadang membuat individu merasa kurang puas terhadap dirinya sendiri. Semakin sering seseorang membandingkan kehidupan nyata miliknya dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain, semakin besar kemungkinan munculnya perasaan rendah diri dan ketidakpuasan hidup.
Menurut penulis, narasi populer yang menyatakan bahwa media sosial sepenuhnya merusak kesehatan mental juga perlu dikritisi. Tidak semua pengguna mengalami dampak negatif yang sama. Faktor seperti harga diri, regulasi emosi, kemampuan berpikir kritis, serta dukungan sosial memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan bagaimana seseorang merespons informasi yang ditemuinya di media sosial. Oleh karena itu, media sosial seharusnya dipandang sebagai faktor yang memperkuat kecenderungan psikologis yang sudah ada, bukan sebagai penyebab tunggal munculnya berbagai masalah psikologis.
Media Sosial dan Dukungan Sosial
Hubungan antara media sosial dan kesejahteraan psikologis menjadi salah satu topik yang banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian Zhang, Tang, dan Liu (2023) menemukan bahwa penggunaan media sosial dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis melalui mekanisme harga diri dan dukungan sosial daring. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dampak media sosial tidak selalu negatif maupun positif secara mutlak, melainkan bergantung pada cara individu menggunakan media sosial tersebut.
Sementara itu, Ostic et al. (2021) menjelaskan bahwa pengaruh media sosial terhadap kesejahteraan psikologis bersifat kompleks. Dampaknya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti durasi penggunaan, tujuan penggunaan, karakteristik individu, dan jenis aktivitas yang dilakukan di media sosial.
Sebagai contoh, penggunaan media sosial untuk memperoleh dukungan sosial atau menjaga hubungan dengan orang terdekat dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, penggunaan yang berorientasi pada pengawasan sosial, pencarian validasi berlebihan, atau perbandingan sosial cenderung berkaitan dengan meningkatnya stres dan ketidakpuasan hidup.
Temuan ini menunjukkan bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga bagaimana dan mengapa media sosial digunakan.
Ketakutan Tertinggal Informasi: Selain meningkatkan perilaku perbandingan sosial, media sosial juga melahirkan fenomena psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FoMO). FoMO merupakan perasaan cemas ketika seseorang merasa tertinggal informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.
Fenomena ini sangat relevan dengan kehidupan Kaum Perempuan saat ini. Banyak Kaum Perempuan merasa perlu terus memeriksa Instagram, TikTok, atau aplikasi pesan karena khawatir melewatkan informasi penting. Bahkan, tidak sedikit yang merasa gelisah ketika tidak dapat mengakses internet dalam waktu tertentu.
Penelitian Najib dan Rahmawati (2024) pada Kaum Perempuan Indonesia menunjukkan bahwa FoMO masih menjadi fenomena yang cukup sering ditemukan pada pengguna media sosial. Individu yang mengalami FoMO cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi untuk selalu terhubung dengan aktivitas sosial di dunia digital.
Namun demikian, menarik untuk dicermati bahwa FoMO sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Sebelum hadirnya media sosial, manusia juga memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial. Perbedaannya terletak pada skala dan intensitas. Media sosial memungkinkan individu mengetahui aktivitas ratusan bahkan ribuan orang dalam waktu bersamaan sehingga peluang munculnya rasa tertinggal menjadi jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Dengan kata lain, media sosial tidak menciptakan kebutuhan sosial manusia, tetapi memperbesar eksposur terhadap berbagai informasi yang memicu kebutuhan tersebut.
Memanfaatkan Media Sosial menuju yang Lebih Sehat
Melihat dari berbagai dampak yang ditimbulkan, penting untuk memahami bahwa media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Dampak yang muncul sangat bergantung pada pola penggunaan individu.
Literasi digital menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dikembangkan. Individu perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali merupakan representasi yang telah diseleksi, bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.
Selain itu, kemampuan regulasi diri juga diperlukan agar penggunaan media sosial tetap berada dalam batas yang sehat. Membatasi waktu penggunaan, mengurangi aktivitas perbandingan sosial, serta meningkatkan interaksi sosial secara langsung dapat menjadi langkah yang membantu menjaga kesejahteraan psikologis.
Bagi Kaum Perempuan, media sosial sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan diri, memperluas wawasan, dan membangun jejaring profesional, bukan semata-mata sebagai sumber validasi sosial.
Penutup : Media sosial telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari cara berinteraksi, membangun identitas diri, mencari pengakuan sosial, hingga memaknai keberhasilan hidup. Pada Kaum Perempuan, perubahan tersebut terlihat melalui meningkatnya perilaku perbandingan sosial, kebutuhan akan validasi digital, serta munculnya fenomena Fear of Missing Out (FoMO).
Namun, menyalahkan media sosial sebagai penyebab utama berbagai permasalahan psikologis juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak media sosial bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk karakteristik individu, kemampuan regulasi diri, serta kualitas hubungan sosial yang dimiliki seseorang.
Menurut hemat saya, tantangan terbesar Kaum Perempuan saat ini bukanlah bagaimana menghindari media sosial, melainkan bagaimana membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi, memahami bahwa unggahan media sosial tidak selalu mencerminkan realitas, serta membangun harga diri yang tidak bergantung pada validasi digital merupakan keterampilan psikologis yang semakin penting di era digital.
Sebagai renungan, media sosial hanyalah alat. Dampaknya dapat menjadi positif maupun negatif tergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Oleh karena itu, upaya meningkatkan literasi digital dan kesadaran psikologis perlu menjadi perhatian bersama agar teknologi dapat mendukung kesejahteraan manusia untuk mengubah cara manusia berpikir, menilai diri sendiri, dan berperilaku?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
4 hours ago
3







































