umar arsyad
Pendidikan | 2026-07-06 15:32:58
Potret para adika Pramuka usai mengikuti pembukaan kegiatan kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 . (Sumber: Dok. Pribadi)
“Di Gontor, pramuka bukan sekadar kegiatan, melainkan pendidikan yang melatih jiwa, membentuk karakter, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan.”
Kalimat tersebut tepat untuk menggambarkan posisi kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di pesantren ini, pramuka tidak dipandang sekadar ekstrakurikuler yang mengisi waktu luang para santri.
Kepramukaan justru menjadi bagian penting dari sistem pendidikan yang bertujuan membentuk santri agar disiplin, mandiri, tangguh, dan siap memimpin. Karena itu, pramuka di Pondok Modern Darussalam Gontor layak dipahami sebagai salah satu kawah candradimuka pembentukan pandu Islami.
Pramuka sebagai Wadah Pendidikan Karakter
Pondok Modern Darussalam Gontor dikenal dengan sistem pendidikan 24 jam, yakni pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlangsung dalam seluruh aktivitas kehidupan santri (holistic education).
Dalam kerangka inilah, kepramukaan memperoleh tempat yang penting. Melalui latihan rutin, perkemahan, perlombaan, baris-berbaris, penugasan regu, hingga kegiatan lapangan lainnya, santri tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga ditempa untuk hidup tertib, taat aturan, dan bertanggung jawab.
Kepramukaan di Gontor membiasakan santri untuk menghargai waktu, mematuhi komando, bekerja sama, serta menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
Di lapangan pramuka, seorang santri belajar bahwa keberhasilan tidak dapat diraih sendirian. Ia harus mampu menyesuaikan diri dengan regu, mendahulukan kepentingan bersama, dan siap menerima amanah.
Dari proses inilah tumbuh karakter penting seperti disiplin, tanggung jawab, ketangguhan, dan kepedulian sosial.
Lebih dari itu, pramuka juga melatih mental para santri agar tidak mudah mengeluh. Kegiatan yang padat, latihan yang melelahkan, serta tuntutan untuk tetap sigap dalam berbagai situasi menjadi sarana pembiasaan yang efektif.
Santri dibentuk untuk kuat secara fisik, stabil secara emosi, dan matang dalam bersikap. Dengan demikian, kepramukaan bukan hanya melahirkan pandu yang terampil, tetapi juga pribadi yang siap menghadapi tantangan dalam kehidupan.
Menanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Nilai Islami
Keistimewaan kepramukaan di Gontor terletak pada orientasinya yang tidak berhenti pada kecakapan lapangan, melainkan berlanjut pada pembentukan jiwa kepemimpinan dan penanaman nilai-nilai Islam.
Seorang santri yang aktif dalam pramuka dibiasakan untuk memimpin regu, mengatur kegiatan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan.
Dalam pengalaman itu, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan soal pengabdian, keteladanan, dan kesediaan berkorban untuk orang lain tanpa menjadi korban.
Hal ini sejalan dengan pepatah KH. Imam Zarkazyi, “Berkorbanlah tapi jangan menjadi korban.”
Pramuka menjadi sarana latihan kepemimpinan yang efektif, karena santri tidak hanya mendengar teori tentang kepemimpinan, tetapi langsung mempraktikkannya dalam kehidupan bersama.
Dari sinilah lahir keberanian, inisiatif, kemampuan berkomunikasi, serta kecakapan dalam mengelola suatu kelompok.
Di saat yang sama, kepramukaan di Gontor juga dibingkai dengan nilai-nilai Islami. Disiplin dipahami sebagai bagian dari amanah, kerja sama sebagai bentuk ukhuwah islamiyyah, dan pengabdian sebagai jalan latihan keikhlasan.
Dengan perpaduan antara latihan fisik, pembentukan mental, dan pendidikan nilai, pramuka di Gontor tidak hanya membentuk pandu yang tangkas, tetapi juga pandu Islami yang berakhlaqul karimah, bertanggung jawab, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Karena itu, kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor patut dipandang sebagai salah satu instrumen pendidikan karakter yang efektif.
Di balik barisan, aba-aba, tali-temali, dan perkemahan, tersimpan proses panjang pembentukan jiwa. Dari sanalah para santri belajar menjadi pribadi yang disiplin, berani, mandiri, dan memiliki semangat kepemimpinan yang berlandaskan dengan nilai-nilai Islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
5 hours ago
3













































