REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar modal Indonesia diproyeksikan memasuki fase akselerasi pada 2026. Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam laporan bertajuk 2026 Year of Fire Horse Outlook menilai tahun depan sebagai periode percepatan pertumbuhan, bukan sekadar bertahan atau konsolidasi.
Menurut riset tersebut, 2026 menjadi titik balik reformasi struktural di pasar modal. Volatilitas dan friksi regulasi yang sempat terjadi sebelumnya justru dinilai dapat menjadi katalis penguatan integritas dan kredibilitas pasar.
“Bukan saatnya konsolidasi pasif; pasar akan didominasi entitas yang berani mengambil ruang,” demikian kutipan dalam laporan tersebut yang diterima Republika, Rabu (18/2/2026).
Dalam konteks ekonomi global, Indonesia masih memiliki ruang ekspansi. Proyeksi produk domestik bruto (PDB) dunia mencapai 123,6 triliun dolar AS, dengan Amerika Serikat sekitar 31,8 triliun dolar AS dan China 20,7 triliun dolar AS.
Sementara itu, PDB Indonesia diperkirakan berada di kisaran 1,6 triliun dolar AS. Riset Kiwoom menekankan, strategi beli dan tahan jangka panjang berpotensi kurang efektif di tengah volatilitas tinggi.
Rotasi sektor diprediksi berlangsung cepat, sehingga pendekatan active rebalancing serta pemanfaatan momentum dinilai lebih relevan bagi investor. Sektor digital menjadi penggerak utama akselerasi, meliputi ekosistem teknologi, infrastruktur data, hingga kecerdasan buatan. Lonjakan permintaan kapasitas data dipandang sebagai pendorong pertumbuhan berulang.
Selain itu, sektor energi hilir, komoditas yang terpengaruh dinamika geopolitik, industri padat belanja modal, serta emiten terkait agenda strategis nasional memiliki visibilitas kinerja tinggi. Dukungan kebijakan pemerintah dan narasi makroekonomi menjadi faktor penguat valuasi.
Meski demikian, riset tersebut mengingatkan adanya risiko jenuh beli dan koreksi tajam. Disiplin mengambil untung serta pengelolaan volatilitas menjadi krusial. “Di Tahun Kuda Api, berdiam diri adalah risiko terbesar. Bergerak cepat atau tersapu oleh laju pasar,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Kiwoom merekomendasikan sejumlah saham dengan target harga sebagai berikut:
BMRI Rp 5.950
BTPS Rp 1.635
INKP Rp 10.800
ERAL Rp 540
JPFA Rp 3.110
INET Rp 630
TRIN Rp 1.650
ENRG Rp 2.000
TLKM Rp 4.000
RMKE Rp 13.100
Strategi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergeser ke pemilihan saham agresif. Emiten dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi diprediksi lebih unggul, sementara sektor defensif berperan sebagai peredam risiko.
Bagi investor ritel, momentum ini menawarkan peluang sekaligus peringatan. Pergerakan cepat berpotensi meningkatkan imbal hasil, tetapi tanpa disiplin, volatilitas dapat menggerus aset.
“Keberuntungan berpihak kepada yang berani,” demikian penutup riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.
sumber : Antara
.png)
2 weeks ago
1
















































