Muhammadiyah Segera Bangun Pabrik Alat Infus Berteknologi Italia

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammadiyah berkomitmen untuk membangun sebuah pabrik alat infus dengan mengadopsi teknologi dari Italia. Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Muhadjir Effendy.

Menurut dia, Muhammadiyah memilih penggunaan teknologi dari Italia lantaran pertimbangan kualitas yang dinilai lebih unggul. Selain itu, Persyarikatan juga bervisi kemandirian jangka panjang yang berkelanjutan.

Muhadjir menjelaskan, peletakan batu pertama (groundbreaking) pabrik alat infus tersebut direncanakan berlangsung pada Mei 2026 di Mojokerto, Jawa Timur. Nantinya, pabrik tersebut tidak hanya memproduksi cairan infus, tetapi juga alat-alat medis sekali-pakai lainnya, termasuk jarum medis.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengingatkan, Muhammadiyah kini memiliki sekira 130 unit rumah sakit dan lebih dari 400 klinik. Karena itu, kebutuhan Persyarikatan akan alat-alat medis cukup tinggi.

Dengan mendirikan pabrik alat infus sendiri, lanjut dia, Muhammadiyah semakin mampu memperkuat sirkulasi ekonomi internal Persyarikatan.

“Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha,” ujar Muhadjir, dikutip dari pernyataan tertulis pada Ahad (19/4/2026).

Dalam hal pembiayaan, jelas dia, pembangunan pabrik di Mojokerto tersebut akan menggunakan skema investasi berbasis saham dari jaringan rumah sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Muhadjir menegaskan, kebutuhan investasi cukup besar, terutama karena penggunaan teknologi impor dari Italia.

“Teknologinya langsung dari Italia. Walaupun mahal, daya tahannya tinggi. Dari sisi kemasan juga lebih baik, sehingga berdampak pada efisiensi operasional,” jelasnya.

Pembangunan pabrik tersebut ditargetkan dimulai pada akhir Mei 2026. Menurut rencana, proyek ini akan rampung sebelum penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027 dan mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.

Meski menggunakan teknologi berbiaya tinggi, Muhammadiyah menargetkan produk alat infus yang dihasilkan tetap memiliki harga kompetitif. Hal ini sejalan dengan semangat bisnis Persyarikatan yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan semata-mata keuntungan.

“Kita sudah hitung dengan matang agar harga tetap lebih terjangkau. Tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” tukas dia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |