REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Generasi muda dinilai semakin dekat dengan dunia investasi dan layanan keuangan digital. Namun, di balik tingginya minat tersebut, anak muda juga dinilai rentan mengambil keputusan keuangan secara impulsif karena mengikuti tren.
Asisten Direktur Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah OJK, Asadulloh Sefnado, mengatakan generasi muda saat ini memiliki karakter dekat dengan teknologi dan cepat mengikuti perkembangan tren. Namun, kondisi itu juga membuat anak muda lebih rentan mengambil keputusan keuangan tanpa perencanaan yang matang.
“Pelajar dan mahasiswa cukup rentan terpengaruh arus informasi dan fenomena pengelolaan keuangan yang tidak bijaksana seperti YOLO, FOMO, dan FOPO,” ujar Sefnado dalam Focus Group Discussion (FGD) Road to ISF 2026 bertajuk “Beyond Awareness: Dari Gaya Hidup Menjadi Inklusi” yang digelar Republika bersama FoSSEI, Rabu (13/5/2026) lalu.
Data OJK menunjukan generasi Z saat ini mencapai 74,93 juta orang atau sekitar 27,94 persen dari total populasi Indonesia. Kelompok usia muda dinilai memiliki karakter kreatif, terbuka terhadap perubahan, dan fasih menggunakan teknologi digital. Namun, di sisi lain juga lebih mudah terpengaruh gaya hidup dan tren di media sosial. OJK menilai kondisi tersebut dapat memicu perilaku konsumtif dan keputusan finansial yang berisiko.
Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Rizka Septia, mengatakan banyak anak muda mulai tertarik masuk ke dunia investasi hanya karena mengejar keuntungan cepat.
“Banyak sekarang Gen Z atau anak muda ini yang sangat tertarik ke dunia investasi karena cuannya saja, tanpa memikirkan risiko ke depannya,” ujar Rizka.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat sebagian investor muda mudah panik ketika pasar mengalami penurunan. Ia menilai investasi tanpa pemahaman yang cukup berisiko berubah menjadi aktivitas spekulatif.
“Kalau hanya sekadar FOMO dan tidak mengerti ilmunya ya tidak ada bedanya dengan judi,” katanya.
Selain perilaku konsumtif, OJK juga mengingatkan generasi muda rentan terpapar berbagai modus penipuan keuangan digital, mulai dari investasi bodong, phishing, pinjaman online fiktif, hingga penipuan melalui media sosial.
Karena itu, OJK menilai peningkatan literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa perlu terus diperkuat agar generasi muda lebih bijak dalam mengelola keuangan dan berinvestasi.
.png)
4 hours ago
3
















































