Menjawab Tantangan Inklusi Keuangan Syariah yang Masih Rendah

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia bergerak pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, indeks literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia kini telah mencapai angka 43,42 persen. Namun, ada tantangan yang masih perlu diakselerasi, yakni pada indeks inklusi keuangan syariah yang saat ini masih berada di level 13,41 persen.

Dalam wawancara dengan Republika, Direktur Unit Usaha Syariah PT Bank Maybank Indonesia Tbk Romy H Buchari menilai, dari sisi produk, inovasi, hingga regulasi, industri ini disebut sudah mampu bersaing dengan negara lain di kawasan seperti Malaysia maupun negara di Timur Tengah.

Namun, tantangan terbesar industri syariah masih berada pada sisi penggunaan atau inklusi di masyarakat. Meski tingkat literasi keuangan syariah terus meningkat, pemanfaatan layanan perbankan syariah dinilai belum berkembang secepat pemahamannya.

Romy mengatakan, Maybank Syariah pun mencoba hadir dan memberikan layanan yang bisa menggenjot inklusi. Berikut ini adalah petikan wawancaranya dengan tim Republika:

Bagaimana Bapak melihat perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini?

Kalau dilihat dari sisi supply, sejak kita mulai mendengungkan perbankan syariah dan mulai terlihat di awal 2000-an, perkembangannya luar biasa. Dari sisi produk, layanan, dan regulasi, itu sudah luar biasa.

Produk-produk kita tidak kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia atau negara-negara di Timur Tengah. Saya tahu karena saya pernah di sana. Tidak kalah sama sekali. Malah sebetulnya kalau kita lihat lebih detail, pemakaian struktur syariah di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan di tempat lain.

Sebagai contoh, di Indonesia, kita tidak memakai yang namanya komoditi murabahah. Dalam perbankan syariah, pembiayaan itu harus ada underlying yang jelas. Jadi tidak ada spekulasi, tidak ada membeli sesuatu yang tidak jelas, tidak ada gambling.

Hal ini kemudian memicu keterbatasan karena kebutuhan bisnis itu terkadang kompleks. Misalnya untuk membayar listrik, gaji, supplier, itu sulit kalau harus ada akad satu per satu. Di sejumlah negara lain akhirnya dikembangkan akad komoditi murabahah yang lebih fleksibel dan kebutuhan yang beragam tersebut bisa dikonsolidasi.

Akan tetapi, di Indonesia, hal itu belum diperbolehkan oleh OJK. Ini karena kita ingin tetap memakai prinsip syariah yang ideal. Justru karena itu kita jadi lebih kreatif dalam membuat produk dan layanan.

Kalau berbicara dari sisi demand, angka literasi itu meningkat terus. Tapi inklusi atau penggunaannya belum. Banyak masyarakat yang sudah mengerti, tapi belum sampai merasa, 'sudah waktunya saya pakai'.

Mungkin karena memang masyarakat Indonesia sudah cukup nyaman dengan perbankan konvensional. Tapi, sekarang mulai ada segmen yang tumbuh, yang ingin lebih menerapkan nilai-nilai sebagai Muslim, termasuk dalam layanan keuangan.

Bagaimana Maybank berupaya meningkatkan inklusi dengan melihat kondisi kelas menengah saat ini?

(Kelas menengah) banyak yang mengejar apa yang disebut social currency. Pendapatan ada tapi dipakai untuk sesuatu yang terlihat. Sementara dari sisi sustainability ke depan kurang diperhatikan. Ini yang kami coba tekankan untuk diseimbangkan.

Kami tidak hanya bicara produk, tapi juga edukasi. Kami datang ke kampus-kampus, melakukan literasi syariah. Selain itu, kami juga memastikan produk syariah tidak kalah secara praktis. Sekarang nasabah tidak perlu merasa mengorbankan sesuatu (jika dibandingkan dengan konvensional). Tarik tunai bisa di ATM mana saja tanpa biaya, cabang juga sudah banyak.

Bisa dijelaskan konsep Sharia Wealth Management yang dimiliki Maybank Syariah?

Di sini yang kami lakukan adalah wealth management dengan perspektif syariah. Perspektifnya adalah manajemen tidak hanya dari sisi finansial, tapi juga sisi spiritual dan sosialnya juga.

Maybank menekankan bahwa Sharia Wealth Management itu adalah suatu journey yang kita bersama-sama dengan nasabah membantu dalam tahapan-tahapan kehidupan nasabah itu. Jadi tidak hanya dari sisi finansial, tapi bagaimana dengan aset yang sudah ada juga bisa bermanfaat untuk sesama.

Kami merupakan salah satu pionir yang memposisikan wealth management dari perspektif syariah secara komprehensif. Kami mengusung lima pilar dalam Sharia Wealth Management. Tiga pilar pertama berkaitan dengan finansial yakni menciptakan kekayaan, mengembangkan kekayaan, dan melindungi kekayaan. Dua pilar berikutnya berkaitan dengan aspek spiritual yakni pemurnian dan distribusi kekayaan.

Jadi tidak hanya bagaimana menghasilkan dan menjaga aset, tetapi juga bagaimana aset itu dimanfaatkan untuk kebaikan.

Ini perbedaan di antara Sharia Wealth Management yang ditawarkan Maybank dengan wealth management biasa. Dari sisi finansialnya, jika kita bicara mengenai produk investasi jangka pendek, jangka menengah, sampai jangka panjang itu ada semua.

Sejak kita luncurkan itu di akhir 2023, pencapaiannya cukup bagus ya, Alhamdulillah. Banyak nasabah yang melihat ini sesuatu yang berbeda, karena elemen-elemen yang di luar finansial juga kita tambahkan. Pertumbuhannya bisa double digit dari 2023 ke 2024 sampai 2025.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |