Menjaga Anak di Era Konten Viral

5 hours ago 3

Image Diana Rahayu

Curhat | 2026-07-06 17:45:00

sumber gambar ai chatgbt

Kisah kematian 2 orang anak siswa TK dan SD di Lombok Timur sebulan lalu masih menyisakan pilu. Pasalnya, penyebab kematian pelajar belia itu akibat cedera leher setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online. Betapa miris, harapan yang masih jauh hendak diraih orang tua atas kesuksesan anak-anaknya harus kandas karena gawai. Meskipun telah berlalu, namun kejadian tersebut harus menjadi sebuah pembelajaran supaya tidak terulang kembali.

Aksi freestyle penyebab kematian tersebut, diduga terinspirasi dari game online populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem. Wajar saja jika aksi viral ini begitu membuat anak-anak penasaran dan ingin mencoba sebagai validasi diri di tengah teman-temannya.

Buntut dari kasus menyedihkan ini, berbagai pihak mulai dari kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga KPAI memberi himbauan kepada orang tua, untuk lebih mengawasi penggunaan HP, media sosial, serta tontonan anak-anak. Harapannya dengan pendampingan dan pengawasan berbabgai pihak, anak-anak akan tidak mudah melalukan hal yang beresiko membahayakan dirinya, karena ada penanaman pemahaman yang benar.

Sebenarnya wajar, saat anak yang masih belum sempurna nalarnya, akan mengikuti begitu saja apa yang dianggap menarik di game online dan sosial media. Rasa ingin mencoba pada usia anak-anak adalah sesuatu yang fitrah, yang lahir dari naluri ego, menunjukkan kemampuannya dan kehebatannya pada orang lain. Yang dia inginkan adalah pengakuan bahwa aku bisa, aku keren, aku hebat. Mereka akan sedih saat semua bisa, dan hanya dirinya yang tak bisa.

Kewajiban Pendampingan Anak Untuk Kesempurnaan Nalarnya

Oke, pada posisi ini sebenarnya wajar saja jika ia ingin mendaptkan pengakuan sekitarnya atas keberadaan dirinya. Namun pada kondisi akalnya belum sempurna menimbang segala perbuatan dari berbagai sudut baik buruk, manfaat resiko, atau lebih jauh benar dan salah, maka ini menjadi tanggung jawab orang tua yang pertama kali. Karena orang tua lah yang membersamai dan mendampingi tumbuh kembang anak di rumah. Kurangnya pendampingan orang tua terhadap anak, membuat mereka dengan mudah mendapat akses informasi yang berpotensi merusak dan berbahaya.

Lantas, apakah cukup orang tua saja? Tidak. Selain orang tua yang menjadi pihak pertama berkewajiban mendampingi anak di rumah, kontrol lingkungan adalah penanggung jawab kedua bagi anak di luar lingkungan rumahnya. Maka akan muncul bentuk pengawasan yang melingkupi diri anak baik di dalam maupun di luar rumahnya. Tidak akan ada anak-anak bermain sendiri tanpa pengawasan.

Kewajiban pendampingan yang paling urgen adalah pihak negara. Negara lah yang mempunyai kewenangan dalam pembatasan akses terhadap konten online yang salah dan membahayakan. Di saat negara tidak berperan atau hanya mengambil porsi sekedarnya dalam pembatasan akses konten online yang negative, tentu pendampingan semacam ini belum efektif dampaknya.

Islam Menjaga Generasi Secara Sempurna

Islam memandang anak-anak yg belum balig tidak dikenai taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Dari sinilah perlu pendampingan dari orang dewasa untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan. Mengasah nalurinya dengan nalar yang baik dan sesuai tuntunan agama.

Pada orang tua/wali, di pundaknya terletak tanggung jawab mendidik dan mengasuh mereka serta melindungi dari segala bentuk bahaya. Pendidikan, pengasuhan dan perlindungan orang tua terhadap anak akan diganjar pahala yang lebih baik dari sedekah satu sha’. Sebagaimana hadist Nabi Saw.

“Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,’” (HR At-Tirmidzi).

Bangunan pendidikan dalam Islam tidak hanya bertumpu pada orang tua saja, tapi bertumpu secara sempurna pada tiga pilar utama yakni peran orang tua, lingkungan, serta negara. Dengan model pendidikan komprehensif atas asas tiga pilar, akan terwujud ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal.

Sebagai pemilik kewenangan tertinggi atas berbagai kebijakan, Islam mewajibkan negara untuk membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat dan bahkan berpotensi membahayakan generasi. Negaralah yang mempunyai power untuk hanya menghadirkan informasi yang benar dan bermanfaat dengan asas iman. Bentuk-bentuk konten edukasi akan diperbanyak, sehingga terwujud generasi yang berperadaban cemerlang. Maka dalam model kepengurusan negara berdasar Islam, semua dijaga dalam kebaikan dan tak akan membiarkan konten yang akan menjadikan nyawa sebagai taruhannya menjadi viral.

Wallahu’alam bishowwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |