REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Iman bukanlah sekadar warisan sosial yang diterima begitu saja. Iman juga bukan sekadar mengikuti lingkungan tempat seseorang dibesarkan, ataupun tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Iman adalah sebuah kebenaran agung yang menjadi dasar tegaknya langit dan bumi, serta menjadi jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Allah Yang Mahamulia tidak pernah menuntut kita untuk beriman secara buta atau mempercayai sesuatu tanpa dasar dan bukti.
Sebaliknya, Allah menjadikan iman berdiri di atas dua fondasi besar: cahaya akal yang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta cahaya wahyu yang menuntun hati menuju petunjuk.
Lantas mengapa kita beriman kepada Allah SWT? Alquran mengumpkan lima argumentasi logis yang menjelaskan alasan mutlaknya percaya kepada Dzat yang Mahamenciptakan, yaitu sebagai berikut:
Pertama, kita beriman karena seluruh alam semesta menjadi saksi atas keagungan Allah SWT
Langit yang terhampar tinggi, bumi yang terbentang luas, matahari dan bulan yang beredar dengan teratur, serta berbagai tanda kebesaran yang tak pernah habis untuk disaksikan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." (QS Ali Imran: 190)
.png)
6 hours ago
1














































