REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dari sebuah petak sempit berukuran tiga kali empat meter di Desa Agusen, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kehidupan mencoba menemukan bentuknya kembali. Dinding tripleks dan atap seng yang memantulkan panas siang itu menampung lebih dari sekadar tubuh, ia menyimpan tawa yang dipaksakan, keluh yang tak tertahan, dan harapan yang belum sepenuhnya padam.
Di hunian sementara itu, Hanime (61) duduk bersila di atas karpet tipis, mengawasi anak-anaknya yang pulang dari perantauan. Suaminya, Rahman (62), tak jauh darinya. Anak-anak mereka, Ani dari Jakarta, Dewi dari Medan, dan Junaidi yang menetap di Blangkejeren, berkumpul bersama cucu-cucu, memenuhi ruang yang bahkan untuk bernapas pun terasa terbatas. Namun, justru dalam sesak itulah mereka merajut ulang arti kebersamaan.
Rumah yang mereka tinggali kini bukanlah rumah dalam pengertian yang utuh. Ia adalah sisa dari kehilangan. Banjir bandang pada akhir November 2025 telah menghapus jejak tempat tinggal mereka, bahkan tanah yang dahulu dipijak pun ikut hanyut. Yang tersisa hanya ingatan, dan tekad untuk bertahan.
Menjelang hari raya, dinamika di dalam huntara tak pernah benar-benar tenang. Di sela obrolan hangat dan tawa keluarga, selalu ada gangguan kecil yang mengusik: air bersih. Desa yang dahulu dikenal kaya akan sumber air pegunungan kini justru dililit krisis. Pipa-pipa saluran menjadi sumber konflik kecil antartetangga, tersumbat, diperebutkan, bahkan sengaja ditutup dari hulu.
“Masalah air ini yang paling parah,” keluh Ani, sambil terus mengaduk masakan di dapur seadanya. Baginya, dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan nadi kehidupan keluarga. Tanpa air, segalanya menjadi rumit.
Ia bahkan tak segan menjadi “singa” demi memastikan air tetap mengalir ke rumahnya. Keluhannya disampaikan dengan blak-blakan, diselingi tawa yang justru membuat suasana hangat. Dalam keterbatasan, kejujuran menjadi cara bertahan.
Ani adalah potret kontras dari kampung halamannya yang luluh lantak. Dua tahun terakhir ia membangun hidup di kawasan urban, menjadi pengusaha produk perawatan kulit sekaligus kreator konten kecantikan. Dari sana ia membantu membiayai pendidikan adik-adiknya. Namun, ketika bencana datang, ia kembali, menyusuri jarak dan risiko, untuk memastikan orang tuanya selamat.
Ia masih mengingat jelas momen ketika harus menumpang helikopter dua hari setelah bencana, saat akses darat terputus total. Dari udara, ia menyaksikan kampungnya rata dengan tanah. Rumah yang baru saja selesai direnovasi bersama saudara-saudaranya lenyap tanpa sisa.
Namun bagi Junaidi, kehilangan itu lebih dari sekadar bangunan. Tanah Agusen adalah jejak leluhur mereka. Kakeknya termasuk orang pertama yang membuka desa itu. Akar sejarah keluarga tertanam dalam di sana, terlalu dalam untuk dicabut oleh bencana.
sumber : Antara
.png)
2 hours ago
2















































