
Oleh: Ustaz Muh. Riezky Pradana Mukhtar, Lc., M.H.*)
Ibadah haji merupakan manifestasi tertinggi dari penghambaan seorang Muslim kepada Sang Khalik. Dalam struktur rub’ul ibadat dalam kitab Fath al-Qarib, haji diletakkan sebagai bab pamungkas. Penempatan ini bukan tanpa alasan; ia mengisyaratkan bahwa haji adalah ibadah yang merangkum dimensi fisik, harta, sekaligus ruhani yang paling kompleks.
Secara etimologis, haji berakar dari kata al-qasdu yang berarti 'menyengaja'. Maknanya, sebuah tekad bulat untuk menuju Baitullah demi menunaikan manasik dengan tata cara yang spesifik.
Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan juga "muktamar akbar" yang mempertemukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia dalam satu poros tauhid.
Landasan syariat dan persatuan
Ibadah haji bukanlah syariat baru. Ia sudah pernah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Bahkan, disebutkan bahwa tidak ada satupun nabi yang tidak berhaji meskipun tata caranya berbeda dengan yang dilakukan kaum Muslimin saat ini.
Haji diwajibkan bagi mereka yang memenuhi tujuh syarat: Islam, baligh, berakal, merdeka, memiliki bekal (zad), kendaraan (rahilah), serta keamanan perjalanan.
Allah Ta'ala berfirman dalam Alquran surah al-Hajj ayat ke-28:
ليشهدوا منافع لهم
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka."
Ibnu Abbas menafsirkan manfaat ini mencakup keuntungan duniawi, seperti perdagangan, serta kemaslahatan ukhrawi berupa keridhaan Allah.
Secara sosiologis, haji adalah desain integrasi umat yang luar biasa. Jika shalat berjamaah harian mempersatukan warga satu kampung dan shalat Jumat mempersatukan warga sekota, maka haji adalah sarana persatuan umat Islam lintas negara dan budaya.
Manifestasi persamaan di Padang Arafah
Haji adalah simbol runtuhnya kasta manusia. Pakaian ihram yang seragam menghapus segala atribut kemewahan dan jabatan.
Di tempat-tempat seperti Arafah dan Mina, seorang majikan dan pelayan, kaya maupun miskin, berdiri sejajar memohon ridha Allah.
Momen ini merupakan refleksi dari pesan Rasulullah SAW saat Haji Wada (Haji Perpisahan): "Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab kecuali dengan takwa."
Ritual ini mengingatkan kita pada dua keadaan: saat kita lahir tanpa sehelai benang pun dan saat kita bangkit menuju Padang Mahsyar kelak.
Sebuah "kritik" terhadap sistem kasta dan perilaku rasis yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, utamanya Barat, hingga saat ini.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
5 hours ago
5
















































