Karya seniman yang terlibat dalam pameran seni visual bertajuk “Urip Iku Mung Mampir Ngombe”.
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pameran seni visual bertajuk “Urip Iku Mung Mampir Ngombe” yang digelar mahasiswa Program Studi S1 Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta menghadirkan refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan dengan merawat lingkungan di tengah dunia yang bergerak semakin cepat. Pameran yang berlangsung di JNM Bloc pada 7--11 Mei 2026 itu mengangkat falsafah Jawa kuno “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang dimaknai sebagai upaya manusia untuk saling merawat, memperindah, dan menjaga harmoni jagad.
Kurator pameran, Rahma Tussofiyah menjelaskan, gagasan pameran berangkat dari inisiatif sembilan anggota Hayuning Collective yang ingin menghadirkan sesuatu yang baru melalui kolaborasi seni rupa dan bonsai. "Jadi, latar belakangnya sebenarnya dari teman-teman Hayuning Kolektif ya. Kita bersembilan, terus kita berinisiasi untuk bikin pameran. Nah, di sini kita meracik dalam tanda kutip ya, sesuatu yang baru gitu. Yaitu pameran seni rupa dengan bonsai," ujarnya saat dijumpai seusai pembukaan pameran di JNM Bloc, Kota Yogyakarta, Kamis (7/5/2026), malam.
Menurut Rahma, bonsai dipilih sebagai metafora tentang ketelatenan dalam merawat sesuatu hingga akhirnya menghasilkan keindahan. "Kami meminjam bonsai sebagai metafora praktik merawat yang telaten. Kebaikan kecil mungkin tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi jika dirawat dengan konsisten akan tumbuh menjadi sesuatu yang indah dan memberi kehidupan," katanya.
Ia menyampaikan 14 seniman terlibat dalam pameran ini dengan total 33 karya, termasuk 10 bonsai milik seniman bonsai asal Klaten, Muhammad Agus Mustafa. Bonsai-bonsai yang dipamerkan bahkan ada yang berusia lebih dari dua dekade.
Tak hanya menghadirkan karya dua dimensi dan instalasi, pameran ini juga menonjolkan semangat kepedulian lingkungan melalui penggunaan material upcycling dan bahan ramah lingkungan. "Teman-teman menggunakan bahan upcycling, kayak semisal kardus, terus kertas daur ulang, terus ada juga yang menggunakan cat tekstil yang diserap dari pewarna alam gitu. Jadi itu mendukung pernyataan kesenian mereka," ujarnya.
Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah 'Gemah Ripah Loh' karya Alief Edy Irmawan. Karya berbahan kardus itu mengkritik proyek alih fungsi hutan produktif menjadi lahan sawit yang dinilai mengancam ekosistem.
"Karya ini tuh kayak mengkritik gitu loh. Kayak Gemah Ripah Loh Jinawi tuh kayak sekarang tuh mitos atau gimana gitu. Karena ini ungkapan-ungkapan doang tapi praktiknya gimana gitu loh," ucap Rahma.
.png)
3 hours ago
1
















































