
Oleh: Laporan Jurnalis Republika Fernan Rahadi dari Madinah, Arab Saudi.
REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH — Ada pemandangan yang berbeda saat sosialisasi kesehatan jamaah haji dari Kloter 75 Solo di lantai M Hotel Diyar Al Nakheel, Jumat (19/6/2026). Riuh bahasa ngapak Banyumasan terdengar cukup keras di dalam hotel yang terletak di Sektor 4 Madinah tersebut.
Salah satu petugas kesehatan, yakni dokter kloter SOC 75 dr Putri Restu Wulandari, adalah salah satu sosok yang sejak awal hingga akhir sosialisasi tersebut menggunakan bahasa ngapak. Penggunaan bahasa daerah itu dinilai efektif memudahkan pemahaman jamaah dari berbagai kelompok usia dan strata sosial.
“Jamaah haji sekabehane, aja kelalen, nomer siji banyu, banyu, banyu (jamaah haji semua, jangan lupa nomer satu air, air, dan air),” ungkapnya di depan belasan jamaah yang duduk melingkar siang itu.
Ia mengungkapkan hal itu kepada jamaah asal Purwokerto yang rata-rata berusia di atas 50 tahun, bahkan ada yang di atas 60 tahun. Bahasa logat Banyumasan itu efektif untuk menyampaikan pesan dan cepat ditangkap jamaah.
Di tengah suhu Kota Madinah mencapai 45 derajat Celsius, banyak edukasi yang harus disampaikan. Minum air putih ataupun air zamzam secara konsisten satu-dua teguk setiap 10-20 menit agar jamaah terhindari dari dehidrasi.
“Nomer lara nganggo alat pelindung diri, contone sandal, payung, masker. Sunblock penting ben isoh glowing koyok inyong ngeneh (nomer dua, pakailah alat pelindung diri, contohnya sandal, payung, masker. Pakai sunblock juga biar wajah bersinar seperti saya ini,” tuturnya diiringi derai tawa jamaah yang hadir.
Dr Putri menyelipkan guyonan di tengah sosialisasi yang juga efektif diterima jamaah. Hampir 45 menit sosialisasi, tidak ada satu pun jamaah yang beranjak dari tempat duduk.
sumber : MCH 2026
.png)
6 hours ago
3






































