Lebih dari Sekadar Empati: Inilah Alasan Mengapa Rasulullah Begitu Mencintai Umatnya

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di antara ayat-ayat paling menggetarkan dalam Alquran adalah penutup Surah At-Taubah, ayat 128–129. Allah berfirman tentang kehadiran Nabi Muhammad ﷺ:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin…” (QS. At-Taubah: 128–129).

Dua ayat ini bukan sekadar pujian ilahiah kepada seorang utusan. Ia adalah potret ruhani tentang siapa Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah dan di sisi umatnya. Dalam lanskap tasawuf, ayat ini adalah cermin mahabbah, cinta Allah kepada Rasul-Nya, dan cinta Rasul kepada umatnya.

Menurut penjelasan para mufassir klasik seperti Al-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān, dua ayat ini turun sebagai peneguhan di akhir Surah At-Taubah, surah yang banyak berbicara tentang ujian, kemunafikan, dan beratnya perjuangan dakwah.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ayat ini termasuk ayat terakhir yang turun kepada Nabi ﷺ. Di tengah suasana penuh tekanan, penolakan kaum musyrik, makar orang munafik, dan beban dakwah yang tidak ringan, Allah menurunkan ayat ini sebagai penghibur dan penguat.

Bayangkan seorang Nabi yang memikul nasib umatnya di dada. Setiap penolakan melukai hatinya, setiap kekufuran terasa sebagai duka. Maka Allah sendiri bersaksi: ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum, “berat terasa olehnya penderitaanmu.” Ini bukan sekadar empati; ini adalah keterikatan batin yang dalam. Nabi tidak berdakwah dari menara gading. Ia merasakan derita umatnya seperti luka di tubuhnya sendiri.

Kedalaman Makna

Dalam Mafātīḥ al-Ghaib, Fakhr al-Din al-Razi menafsirkan frasa min anfusikum sebagai isyarat kedekatan eksistensial. Rasul itu bukan sosok asing; ia berasal dari jenis dan kehidupan yang sama dengan kaumnya. Menurut Ar-Razi, kedekatan ini meniadakan alasan untuk menolak dakwahnya, karena beliau memahami tabiat manusia, bahasa mereka, bahkan luka sosial mereka.

Tentang sifat ḥarīṣun ‘alaikum (sangat menginginkan kebaikan bagimu), Ar-Razi menjelaskan bahwa Nabi memiliki kehendak yang melampaui kepentingan pribadi. Seluruh ambisinya adalah keselamatan umat. Bahkan ketika mereka menyakitinya, beliau tetap mendoakan. Di sinilah tampak maqam rahmah Nabi, rahmat yang aktif, bukan pasif.

Sementara itu, Al-Tabari menekankan bahwa sifat ra`ūfun raḥīm menunjukkan dua lapis kasih sayang: kelembutan hati (ra’fah) dan limpahan rahmat (rahmah). Dalam tradisi tafsir, dua sifat ini sejatinya adalah sifat Allah yang juga disematkan kepada Nabi sebagai bentuk pemuliaan. Seakan-akan Allah ingin berkata: lihatlah, kasih-Ku memancar melalui dirinya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |