Petugas membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025). Hingga saat ini PLN UIW NTB mengelola 19 unit pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 37,604 MW yang terdiri dari 56,2 persen PLTS dan 43,8 persen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan rata-rata produksi sebesar 13,61 gigawatt hour (GWh) per bulan.
REPUBLIKA.CO.ID,HANOI — Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memperlihatkan rapuhnya ketergantungan dunia pada jalur pasokan energi fosil. Krisis ini dinilai memperkuat urgensi percepatan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.
Perang hampir sepenuhnya menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi rute utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan ini mengguncang pasar energi global, mendorong lonjakan harga dan menekan negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Dampak paling besar dirasakan Asia, tujuan utama ekspor minyak tersebut. Namun, tekanan juga dirasakan di Eropa yang tengah mencari cara menekan permintaan energi, serta Afrika yang bersiap menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan inflasi.
Berbeda dengan krisis energi sebelumnya, kini energi terbarukan semakin kompetitif dibanding bahan bakar fosil. Badan Energi Terbarukan Internasional mencatat lebih dari 90 persen proyek energi terbarukan pada 2024 memiliki biaya lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil.
Meski demikian, minyak tetap menjadi komponen penting dalam berbagai industri, seperti produksi pupuk dan plastik. Karena itu, dampak krisis ini dirasakan luas. Negara dengan porsi energi terbarukan lebih besar relatif lebih tahan terhadap gejolak, karena mengandalkan sumber domestik seperti matahari dan angin, bukan impor bahan bakar.
“Krisis seperti ini terjadi berulang, ini adalah karakteristik, bukan anomali, dari sistem energi berbasis bahan bakar fosil,” kata James Bowen dari ReMap Research, Jumat (20/3/2026).
sumber : AP
.png)
7 hours ago
5















































