genna feliciaa felicia
Humaniora | 2026-06-21 06:41:51
Di media sosial, persoalan sampah sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Kita mengetahui sampah dapat menyumbat aliran air, mencemari sungai, memperparah banjir, dan mengganggu kesehatan. Informasi itu berulang kali muncul dalam berita, kampanye pemerintah, maupun materi sekolah. Namun, mengetahui masalah tidak selalu berarti merasa terdorong untuk bertindak.
Di tengah jarak antara pengetahuan dan tindakan itulah kampanye kebersihan sungai yang dilakukan Pandawara Group menarik untuk diperhatikan. Lewat video di media sosial, kelompok ini memperlihatkan kondisi sungai, saluran air, dan kawasan publik yang dipenuhi sampah. Mereka kemudian turun langsung untuk membersihkannya bersama warga dan relawan. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu identik dengan hiburan atau pencitraan. Media sosial juga dapat menjadi ruang komunikasi publik yang menggerakkan perhatian dan partisipasi masyarakat.
Keberhasilan Pandawara Group tidak hanya terletak pada visual sungai yang kotor atau jumlah penonton yang besar. Jika dilihat melalui teori retorika Aristoteles, kampanye mereka bekerja karena memadukan tiga unsur persuasi: ethos, pathos, dan logos.
Kredibilitas yang Dibangun melalui Aksi
Ethos atau kredibilitas menjadi kekuatan pertama kampanye Pandawara Group. Mereka memperoleh kepercayaan bukan semata-mata karena memiliki audiens, melainkan karena menunjukkan aksi nyata. Mereka tidak hanya mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dari balik layar, tetapi ikut masuk ke sungai, mengangkat sampah, dan mendokumentasikan prosesnya. Dalam komunikasi publik, tindakan seperti ini penting. Pesan lingkungan akan lebih meyakinkan ketika pembicara menunjukkan bahwa ia juga menjalankan nilai yang disuarakannya.
Kredibilitas semacam ini patut menjadi pelajaran bagi banyak pihak. Tidak sedikit kampanye publik berhenti pada slogan, unggahan seremonial, atau ajakan yang terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Akibatnya, publik mudah merasa bahwa pesan tersebut hanya formalitas. Pandawara Group justru membangun kepercayaan melalui konsistensi antara pesan dan tindakan. Mereka memperlihatkan bahwa kepedulian lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan pekerjaan yang melelahkan dan membutuhkan keterlibatan bersama.
Emosi yang Perlu Diteruskan menjadi Tindakan
Unsur kedua adalah pathos, yaitu kemampuan membangkitkan emosi khalayak. Visual tumpukan sampah di sungai dapat memunculkan rasa sedih, marah, prihatin, bahkan malu. Emosi ini penting karena masalah lingkungan sering terasa abstrak apabila hanya disampaikan melalui angka atau imbauan. Ketika publik melihat langsung sungai yang tertutup sampah, persoalan itu menjadi lebih dekat dan nyata.
Namun, penggunaan emosi juga perlu dikritisi. Visual sungai yang sangat kotor memang efektif menarik perhatian, tetapi kampanye lingkungan tidak boleh berhenti pada rasa iba atau kemarahan sesaat. Jika masyarakat hanya menonton, memberi tanda suka, lalu kembali pada kebiasaan membuang sampah sembarangan, maka viralitas tidak menghasilkan perubahan. Pathos perlu diikuti ajakan yang jelas: mengurangi sampah sekali pakai, memilah sampah dari rumah, tidak membuang sampah ke sungai, serta ikut menjaga fasilitas umum di lingkungan sendiri.
Dari Konten Viral ke Tanggung Jawab Bersama
Unsur ketiga adalah logos atau argumentasi logis. Kampanye kebersihan sungai menjadi kuat apabila tidak hanya menampilkan kondisi kotor, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab dan akibat. Sampah yang dibuang ke saluran air dapat menumpuk, menghambat aliran, mencemari lingkungan, dan akhirnya berdampak pada masyarakat sekitar. Logika tersebut sederhana, tetapi sering diabaikan karena orang melihat sampah sebagai masalah yang hilang setelah keluar dari rumah.
Di sinilah peran komunikasi publik menjadi lebih besar daripada sekadar membuat konten yang ramai. Pesan lingkungan harus membantu masyarakat memahami bahwa sampah bukan persoalan individu semata. Masalah tersebut berkaitan dengan perilaku warga, sistem pengangkutan sampah, ketersediaan fasilitas, kebijakan pemerintah daerah, dan tanggung jawab pelaku usaha. Pandawara Group berhasil membuka perhatian publik, tetapi perubahan jangka panjang tetap memerlukan kerja sama yang lebih luas.
Menurut saya, kekuatan terbesar kampanye Pandawara Group adalah kemampuannya mengubah persoalan lingkungan yang sering terasa jauh menjadi sesuatu yang personal. Mereka membuat publik melihat bahwa sungai bukan tempat sampah dan kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau pemerintah. Akan tetapi, keberhasilan sebuah kampanye tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah penonton, unggahan ulang, atau komentar positif. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar mengubah perilakunya setelah melihat pesan tersebut.
Karena itu, kampanye kebersihan sungai perlu menjadi pintu masuk, bukan titik akhir. Kreator konten dapat membangun perhatian; warga dapat membangun kebiasaan; pemerintah dapat memperkuat fasilitas dan penegakan aturan; sedangkan sekolah serta kampus dapat membentuk literasi lingkungan. Ketika semua pihak bergerak, pesan publik tidak berhenti sebagai konten viral.
Pandawara Group menunjukkan bahwa retorika yang efektif tidak selalu disampaikan melalui pidato panjang. Kadang-kadang, retorika paling kuat hadir melalui tangan yang mengangkat sampah dari sungai, visual yang menggugah kepedulian, dan ajakan sederhana untuk tidak menambah masalah yang sama. Namun, pesan itu baru benar-benar bermakna jika publik bersedia mengubah perhatian menjadi tindakan.
Rujukan Penulis
Aristoteles. (2007). Retorika. Terjemahan W. Rhys Roberts. Dover Publications. (Karya asli diterbitkan sekitar 4 SM).
Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of human communication (11th ed.). Waveland Press.
Yopi, M. (2024). Teori-teori dalam komunikasi publik. Modul 08 Mata Kuliah Teori Komunikasi, Universitas Pamulang.
Pandawara Group. Akun resmi Instagram: https://www.instagram.com/pandawaragroup/. Diakses untuk menelusuri dokumentasi aksi dan unggahan kampanye.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
7 hours ago
3






































