REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Salah satu kapal perang terbesar Inggris, HMS Queen Elizabeth (R08), kembali berlayar setelah menjalani rangkaian perawatan dan perbaikan panjang. Kembalinya kapal induk berbobot 65 ribu ton itu terjadi ketika Inggris dan NATO meningkatkan kesiagaan militernya di Atlantik Utara, Eropa Utara, dan kawasan Arktik.
HMS Queen Elizabeth meninggalkan pangkalannya di Portsmouth pada Sabtu (5/9/2026) untuk menjalani program latihan dan operasi selama sekitar tiga bulan. Pelayaran tersebut menjadi tahap penting sebelum kapal itu kembali menyandang status kapal induk dengan tingkat kesiapan sangat tinggi Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada 2027.
Namun, kembalinya Queen Elizabeth kali ini tidak hanya berkaitan dengan berakhirnya masa perawatan. Kapal tersebut kini juga menjadi bagian penting dari perubahan strategi pertahanan Inggris yang semakin menggabungkan kapal perang berawak, jet tempur, drone, serta sistem otonom dalam menghadapi peperangan modern.
Royal Navy menyatakan lebih dari 800 personel akan mengikuti program pelatihan dan operasi intensif selama tiga bulan mendatang. Queen Elizabeth akan beroperasi di sekitar perairan Inggris dan Eropa Utara serta berlatih bersama negara-negara sekutu untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kolektif, penangkalan, dan kesiapan NATO.
Kapal induk itu akan menjalani latihan tingkat lanjut di bawah Flag Officer Sea Training (FOST). Awak kapal akan diuji dalam berbagai skenario peperangan laut modern, mulai dari operasi penerbangan, pertahanan kapal, hingga kemampuan mengoordinasikan armada multinasional ketika menghadapi sebuah krisis.
Posisi Queen Elizabeth kini semakin strategis karena sejak Juli 2026 kapal itu ditunjuk sebagai Afloat Command Platform bagi Allied Reaction Force Maritime atau ARF(M) NATO. Untuk pertama kalinya kapal induk kelas Queen Elizabeth digunakan sebagai platform komando terapung bagi pasukan reaksi cepat maritim NATO.
Dalam skenario krisis, komando maritim tersebut dapat digunakan untuk mengoordinasikan kapal perang, kekuatan udara angkatan laut, serta kapal pendukung berbagai negara anggota. Allied Reaction Force sendiri dirancang NATO sebagai pasukan berkesiapan tinggi yang dapat digerakkan menghadapi berbagai ancaman, termasuk konflik konvensional, perang hibrida, terorisme, hingga serangan siber.
Komandan HMS Queen Elizabeth, Kapten Claire Thompson, mengatakan pelayaran kali ini menjadi tonggak penting bagi komitmen Inggris kepada NATO sekaligus perjalanan kapal induk tersebut kembali menuju status kesiapan sangat tinggi.
“Pelayaran musim gugur ini merupakan tonggak penting bagi komitmen NATO kami sebagai Afloat Command Platform, sekaligus dalam perjalanan kami kembali menjadi kapal induk dengan ‘kesiapan sangat tinggi’ Royal Navy, tugas yang akan kami ambil kembali dari kapal saudara kami HMS Prince of Wales pada 2027,” kata Thompson, sebagaimana dilaporkan USNI News pada Rabu, 9 September 2026.
Thompson juga menekankan pentingnya latihan bersama staf tempur yang berada di atas kapal. Menurut dia, integrasi dan latihan dibutuhkan ketika Queen Elizabeth kembali mengasah kemampuan operasi penerbangan sehingga dapat menjalankan tugas operasional di jantung kekuatan NATO apabila diperlukan.
Program latihan tersebut akan berlanjut hingga 2027 dan mencakup keterlibatan Queen Elizabeth dalam sejumlah latihan besar NATO. Setelah seluruh tahapan selesai, kapal itu diproyeksikan menggantikan HMS Prince of Wales (R09) sebagai kapal induk Inggris dengan kesiapan tinggi pada akhir 2027.
Kembali Setelah Perbaikan Panjang
Queen Elizabeth sebelumnya menjalani rangkaian perawatan bertahap sejak akhir 2024. Salah satu pekerjaan terbesar berlangsung di Rosyth Royal Dockyard, Skotlandia, dari Agustus 2025 hingga Maret 2026.
Periode docking tersebut mencakup sejumlah pekerjaan teknik besar yang hanya dapat dilakukan ketika kapal berada di dok kering. Queen Elizabeth kemudian kembali ke pangkalannya di Portsmouth pada Mei 2026 sebelum melanjutkan serangkaian uji coba dan persiapan operasional.
Kembalinya kapal induk tersebut menjadi bagian dari upaya Inggris mempertahankan kemampuan Carrier Strike secara berkesinambungan. Ketika Queen Elizabeth menjalani perawatan, sebagian besar tugas operasional kapal induk Inggris ditanggung HMS Prince of Wales.
Prince of Wales sendiri dijadwalkan kembali dikerahkan pada paruh kedua 2026 untuk menjalankan fase kedua Operation Firecrest di Atlantik, kawasan High North, dan Eropa Utara. Dengan demikian, Inggris secara bertahap mempersiapkan kedua kapal induknya agar dapat bergantian menjalankan tugas operasional dan kesiapan tinggi.
.png)
10 hours ago
6















































