REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat-saat ketika manusia merasa dunia begitu kokoh di tangannya. Langit tampak tenang, kota-kota berdiri megah, teknologi bergerak melampaui imajinasi, dan manusia mengira semuanya akan terus berjalan sebagaimana biasa.
Namun di tengah rasa aman itu, wahyu datang membawa peringatan lembut sekaligus mengguncang: bahwa kehidupan dapat berubah hanya dalam satu isyarat dari langit. Alquran tidak sekadar berbicara tentang bencana atau akhir zaman, tetapi juga tentang hati manusia yang sering terlena oleh dunia hingga lupa bahwa seluruh kehidupan berada dalam genggaman Allah.
Ayat ke-10 dari Surah ad-Dukhon menghadirkan salah satu peringatan paling kuat dalam Alquran tentang rapuhnya manusia di hadapan kekuasaan Allah. Ayat itu berbunyi:
فَٱرْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ
Fartaqib yauma tatis-samāu bidukhānim mubīn
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut (asap) yang nyata.”
Dalam tafsir klasik yang otoritatif seperti Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dipahami sebagai peringatan kepada kaum Quraisy yang menolak dakwah Nabi Muhammad SAW. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “dukhan” atau asap itu oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai musibah kelaparan hebat yang pernah menimpa Quraisy.
Karena kelaparan yang luar biasa, pandangan mereka menjadi kabur sehingga langit tampak seperti dipenuhi asap. Namun sebagian mufasir lain memahami ayat ini sebagai salah satu tanda besar menjelang kiamat, yakni munculnya asap besar yang menyelimuti bumi.
Penafsiran serupa juga dijelaskan dalam Tafsir At-Tabari. Di dalam kitab itu terdapat penjelasan tentang adanya dua pandangan utama: pertama, asap itu telah terjadi pada masa Nabi sebagai bentuk azab dan peringatan bagi Quraisy; kedua, asap itu merupakan peristiwa besar yang akan terjadi di akhir zaman.
Menariknya, perbedaan tafsir tersebut justru menunjukkan keluasan makna Alquran. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa sejarah, tetapi juga tentang pola berulang dalam kehidupan manusia: ketika kesombongan memuncak, Allah menunjukkan betapa lemahnya manusia.
Di dalam ayat ini terdapat hikmah besar tentang kerendahan hati. Manusia sering merasa kuat karena teknologi, kekuasaan, atau kemajuan peradaban. Namun Alquran mengingatkan bahwa seluruh sistem kehidupan dapat berubah dalam sekejap. Langit yang selama ini tampak tenang dapat menjadi sumber ketakutan. Alam yang terlihat stabil dapat berubah menjadi peringatan.
Dalam konteks modern, manusia menyaksikan bagaimana wabah, krisis lingkungan, perang, dan kekacauan global mampu melumpuhkan kehidupan dunia hanya dalam waktu singkat. Ayat ini seakan mengingatkan bahwa stabilitas dunia bukan sesuatu yang mutlak.
Kata “mubīn” atau “nyata” juga memiliki makna mendalam.
.png)
20 hours ago
6















































