REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Parlemen Iran mengancam akan mengizinkan pengayaan uranium mencapai 90 persen yang bisa dipakai membuat senjata nuklir. Ancaman ini terkait kabar Presiden AS Donald Trump bersiap kembali menyerang Iran.
Juru bicara Komisi Parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengatakan salah satu tanggapan Iran jika terjadi serangan AS-Israel lagi di wilayahnya “bisa berupa pengayaan 90 persen”. “Kami akan mengkajinya di parlemen,” kata Rezaei dalam postingan di X, Selasa.
Iran saat ini diketahui memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya mencapai 60 persen. AS Mendesak Iran menyerahkan uranium yang diperkaya itu sebagai jaminan tak akan membuat senjata nuklir.
Iran selama ini menyangkal berenacana membikin senjata nuklir. Hal itu sempat diharamkan mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang dibunuh AS-Israel dalam serangan Februari lalu.
Pengayaan uranium hingga 90 persen merupakan titik yang sangat sensitif dalam dunia nuklir. Dalam praktiknya, kadar itu dikenal sebagai weapons-grade uranium atau uranium tingkat senjata. Artinya, uranium sudah cukup “murni” dalam kandungan isotop U-235 sehingga dapat dipakai sebagai bahan inti bom nuklir.
Secara teknis, uranium alam sebenarnya hanya mengandung sekitar 0,7 persen U-235. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, kadar ini biasanya dinaikkan menjadi sekitar 3–5 persen. Sementara untuk sebagian reaktor riset dapat mencapai 20 persen. Namun ketika pengayaan mendekati 90 persen, dunia internasional mulai melihatnya bukan lagi semata kebutuhan energi, melainkan potensi militer.
Proses pengayaan dilakukan dengan memisahkan isotop uranium menggunakan sentrifugal berkecepatan tinggi. Semakin tinggi kadar U-235, semakin besar kemampuan material itu menghasilkan reaksi fisi berantai yang sangat cepat dan dahsyat. Di titik inilah hubungan dengan senjata nuklir muncul.
Secara sederhana, bom atom membutuhkan material fisil dalam konsentrasi sangat tinggi agar ledakan nuklir dapat tercipta dalam sepersekian detik. Uranium 90 persen memungkinkan proses itu berlangsung. Karena itu, negara yang sudah mampu memperkaya uranium sampai level tersebut dinilai telah melewati sebagian besar hambatan teknis menuju kemampuan membuat senjata nuklir.
Meski demikian, memiliki uranium 90 persen tidak otomatis berarti sebuah negara telah memiliki bom nuklir. Masih ada tahapan lain yang sangat rumit, seperti desain hulu ledak, mekanisme peledakan presisi tinggi, miniaturisasi, sistem pemicu, hingga integrasi dengan rudal atau pesawat pembawa.
Namun dalam pandangan lembaga pengawas internasional seperti International Atomic Energy Agency, pengayaan 90 persen dianggap sebagai “zona merah” karena jaraknya sudah sangat dekat dengan kapasitas persenjataan.
Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran setelah negosiasi antara kedua negara tampaknya menemui jalan buntu, CNN melaporkan.
Presiden AS semakin frustrasi dengan Iran selama perundingan damai, kata sumber kepada outlet tersebut. Sebelumnya pada hari itu, dia memperingatkan bahwa gencatan senjata AS-Iran sekarang sedang dalam fase kritis.
Iran membalas komentar Trump sebelumnya, dengan menyebut saran mereka “sama sekali tidak dapat diterima”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan usulan Teheran “murah hati” dan “sah” dalam konferensi pers pada hari Senin.
Iran “menuntut diakhirinya perang, mencabut blokade dan pembajakan (AS), dan melepaskan aset Iran yang dibekukan secara tidak adil di bank karena tekanan AS,” kata Baghaei.
Dia mengatakan bahwa gencatan senjata tersebut sekarang “sangat lemah” karena proposal tak masuk akal AS. “Kesepakatan sangat lemah saat ini setelah membaca seonggok sampah yang mereka kirimkan kepada kami”.
.png)
3 hours ago
1
















































