Hantavirus Meluas, Pakar Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

4 days ago 23

Sebuah ambulans yang membawa pasien dari kapal pesiar MV Hondius yang diduga terinfeksi hantavirus tiba di Pusat Medis Universitas Leiden (LUMC) di Leiden, Belanda, Rabu (6/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BUENOS AIRES — Kasus hantavirus di Argentina meningkat tajam dalam satu tahun terakhir. Para pakar menilai perubahan iklim dan degradasi lingkungan berperan dalam meluasnya penyebaran virus yang sebelumnya terbatas di wilayah tertentu.

Argentina mencatat 32 kematian akibat infeksi hantavirus sepanjang tahun ini, angka tertinggi sejak 2018. Kementerian Kesehatan Argentina melaporkan, sejak Juni 2025 terdapat 101 kasus, hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 57 kasus. Tingkat kematian juga naik sekitar 10 persen.

Lonjakan kasus terjadi bersamaan dengan pelacakan infeksi pada pasangan wisatawan yang terpapar virus di kapal pesiar MV Hondius. Kapal tersebut berangkat dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 1 April dan kini berlabuh di Kepulauan Canary, Spanyol.

Sumber penularan di kapal pesiar masih belum diketahui. Otoritas kesehatan menyebut Ushuaia tidak mencatat kasus hantavirus dalam beberapa dekade terakhir, sementara virus tersebut endemik di sejumlah wilayah lain Argentina.

Pasangan asal Belanda yang meninggal dunia diketahui sempat bepergian di beberapa wilayah Argentina, bolak-balik ke Chili, dan singgah di Uruguay sebelum menaiki kapal pesiar. Mereka diduga pernah mengunjungi provinsi Misiones dan Neuquén yang termasuk wilayah berisiko tinggi penularan.

Secara historis, wilayah rawan hantavirus mencakup Argentina bagian barat laut, timur laut, tengah, dan selatan. Namun saat ini sebagian besar kasus justru ditemukan di wilayah tengah, dengan Provinsi Buenos Aires mencatat angka tertinggi sebanyak 42 kasus.

Wabah di MV Hondius dikaitkan dengan hantavirus Andes, varian langka yang dapat menimbulkan gejala berat dan dalam sejumlah kasus mampu menular antarmanusia.

Hantavirus umumnya berkembang di daerah pedesaan dan pinggiran kota yang memiliki vegetasi lebat, area pertanian, serta kondisi lembap atau subtropis. Para ahli menilai perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia membuat habitat hewan pengerat pembawa virus meluas ke wilayah baru.

“Meningkatnya interaksi manusia dengan lingkungan liar, degradasi habitat, pembangunan urbanisasi kecil di daerah pinggiran dan dampak perubahan iklim berkontribusi pada kemunculan kasus di luar area-area endemik biasanya,” kata Kementerian Kesehatan Argentina seperti dikutip CNN International, Sabtu (9/5/2026).

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |