Salah satu adegan di film Thirteen In Gaza. Film Palestina Thirteen In Gaza akan menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) dalam program Centrepiece.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Palestina Thirteen In Gaza akan menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) dalam program Centrepiece. Film ini menjadi film fiksi pertama yang seluruhnya menjalani syuting di Gaza dalam 12 tahun terakhir.
Film tersebut disutradarai sineas asal Gaza, Hosam Abu Dan, dan dibuat bersama pemain serta kru lokal Palestina di tengah kondisi perang. Menjelang pemutaran perdananya di Toronto, MAD World, divisi penjualan film dari MAD Solutions yang berbasis di Kairo, mengakuisisi hak penjualan Thirteen In Gaza untuk seluruh dunia.
Film ini mengikuti perjalanan Raghad, gadis berusia 13 tahun, dan ayahnya setelah rumah mereka di Gaza hancur akibat pengeboman. Mereka kemudian tinggal di sebuah kamp pengungsian yang padat.
Di tempat tersebut, Raghad harus menghadapi masa pubertas, duka, dan hilangnya privasi. Sementara itu, ayahnya berjuang melindungi sang anak di tengah kemiskinan dan kondisi yang semakin sulit. Keadaan semakin rumit ketika sang ayah terlibat dengan Khalil, seorang pedagang yang mengambil keuntungan dari perekonomian selama masa perang. Demi bertahan hidup, ia harus menghadapi pilihan-pilihan moral yang sulit.
Sutradara Abu Dan mengatakan proses syuting film Thirteen In Gaza sangat berat. la ingat betul pada hari keempat syuting, sempat ada bom meledak di dekat lokasi syuting dan menyebabkan satu kru luka serius.
"Pada saat itu, saya bertanya kepada diri sendiri bagaimana kami bisa terus membuat film di tempat seperti ini, dan bagaimana sinema bisa bertahan ketika harganya adalah begitu banyak penderitaan," kata Abu Dan dilansir laman Screen Daily, Sabtu (5/9/2026).
Meski menghadapi kondisi sulit, produksi tetap diselesaikan dengan melibatkan pemain dan kru Palestina lokal. Thirteen In Gaza menjadi film fiksi pertama yang dibuat di Gaza sejak The Idol karya Hany Abu-Assad pada 2014.
Abu Dan mengatakan salah satu impian utama dalam pembuatan film tersebut adalah menghadirkan kembali film fiksi dari Gaza setelah lebih dari 12 tahun.
"Sekarang, ketika film ini menuju pemutaran perdana dunia di Toronto dan memulai perjalanan internasionalnya bersama MAD, saya merasa film ini telah menjadi lebih dari sekadar film yang kami buat di tengah perang," kata Abu Dan.
.png)
50 minutes ago
1














































