DBD Bisa Memburuk Saat Demam Mereda, Kenali Tanda Bahayanya

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awalnya dapat terlihat seperti demam biasa. Namun, kondisi pasien dapat berubah dengan cepat, bahkan ketika demam mulai mereda. Karena itu, keluarga perlu tetap memantau kondisi pasien dan mengenali tanda bahaya dengue.

Dokter sekaligus kreator konten dr Gia Pratama Putra mengatakan, pada fase awal, DBD memang tidak selalu mudah dibedakan dari penyakit demam lainnya. Kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika keluarga menganggap pasien sudah membaik hanya karena suhu tubuh mulai turun.

“Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar Gia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Sabtu (5/9/2026).

Menurut dia, keluarga perlu mencermati kondisi pasien, terutama jika muncul sejumlah tanda bahaya. Gejala tersebut antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran.

Jika tanda-tanda tersebut muncul, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan yang cepat dan tepat penting untuk mencegah dengue berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

“Di IGD kami bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat. Tetapi kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD,” kata Gia.

Ia menilai pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama terhadap dengue. Masyarakat dapat menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, serta memperhatikan kondisi lingkungan di rumah maupun tempat beraktivitas.

Keluarga juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya. Termasuk vaksinasi dengue.

Dengue bukan penyakit baru di Indonesia. Kasus DBD pertama kali tercatat pada 1968 melalui kejadian luar biasa di Jakarta dan Surabaya. Saat itu dilaporkan 58 kasus dengan 24 kematian atau tingkat kematian mencapai 41,3 persen.

Penanganan kasus dan pengendalian penyakit kemudian mengalami perkembangan sehingga tingkat kematian akibat DBD dapat ditekan hingga di bawah satu persen. Namun, dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat dan dapat terjadi sepanjang tahun, tidak hanya pada musim hujan.

Studi Burden of Disease Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari dua juta rawat inap akibat dengue terjadi di Indonesia pada 2024. Beban ekonominya diperkirakan mencapai hampir Rp 9 triliun.

Besarnya beban tersebut tidak hanya terlihat dari biaya pelayanan kesehatan. Ketika anggota keluarga terkena dengue, keluarga juga harus menghadapi waktu perawatan, kehilangan waktu produktif, serta risiko kondisi pasien memburuk.

Indonesia sendiri menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030. Kementerian Kesehatan telah memimpin penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, organisasi profesi, akademisi, organisasi internasional, masyarakat sipil hingga lembaga filantropi.

Upaya tersebut mencakup penguatan surveilans, deteksi kasus dan tata laksana, sistem peringatan dini, pengendalian vektor, serta pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan. Teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue juga menjadi bagian dari pilihan intervensi yang dapat mendukung pengendalian penyakit.

Gia menekankan, upaya menekan kematian akibat dengue tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan. Keluarga memiliki peran penting sejak sebelum pasien datang ke fasilitas kesehatan.

“Jangan sampai justru kita menganggapnya sebagai bagian yang biasa dari kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

Karena itu, ketika anggota keluarga mengalami demam, masyarakat dianjurkan tidak sekadar menunggu suhu tubuh turun. Pemantauan kondisi, kewaspadaan terhadap tanda bahaya, dan keputusan untuk mencari pertolongan medis menjadi bagian penting dalam mencegah dengue berkembang menjadi lebih berat.

Komitmen terhadap pengendalian dengue turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perusahaan farmasi Takeda. Country Head Malaysia & Indonesia Takeda Simon Gallagher mengatakan perlindungan dari dengue membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat.

Ia menilai keluarga perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan karena dampak dengue tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga anggota keluarga yang merawat.

Target nol kematian akibat dengue pada 2030 pada akhirnya membutuhkan tindakan bersama, mulai dari pencegahan di lingkungan, pengenalan tanda bahaya, akses terhadap layanan kesehatan, hingga penanganan pasien secara cepat dan tepat.

“DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial. Karena itu, perjalanan menuju nol kematian akibat dengue perlu menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari upaya pencegahan,” ujar Simon.

Target 2030, katanya, dapat semakin dekat apabila setiap pihak mengambil peran dan bergerak bersama. Vaksin mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dan telah mengubah kesehatan masyarakat global. Selama lebih dari 70 tahun, Takeda telah menyediakan vaksin untuk melindungi kesehatan masyarakat di Jepang. Saat ini, fokus unit vaksin global Takeda menerapkan inovasi untuk mengatasi beberapa penyakit menular paling menantang di dunia, seperti dengue.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |