REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perubahan iklim telah mendorong kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh dunia mencapai titik tertinggi sejak pencatatan dilakukan. Pakar memperkirakan El Nino super pada musim panas tahun ini akan memperparah karhutla di Afrika, Asia, dan berbagai kawasan lainnya.
Kelompok ilmuwan yang meneliti pengaruh perubahan iklim pada pola cuaca, World Weather Attribution (WWA), mencatat karhutla dari Januari hingga April tahun ini sudah 20 persen lebih tinggi dibanding rekor sebelumnya. Kebakaran membakar lebih dari 150 juta hektare lahan.
Para peneliti mengatakan tahun ini diperkirakan akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Dampak perubahan iklim dan El Nino super yang diperkirakan terjadi tahun ini dinilai akan meningkatkan angka karhutla di seluruh dunia.
“Meski di banyak kawasan di dunia musim karhutla belum datang, tetapi akan tiba lebih cepat. Dikombinasikan dengan El Nino, maka kita akan menghadapi tahun yang sangat buruk,” kata pakar karhutla Imperial College London dan anggota WWA, Theodore Keeping dilansir dari Reuters, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan tingginya aktivitas kebakaran di Afrika biasanya dipicu perubahan cuaca yang sangat cepat dari sangat basah menjadi sangat kering. Tingginya curah hujan menumbuhkan lebih banyak vegetasi pada musim sebelumnya yang akhirnya menjadi bahan bakar karhutla di musim kemarau.
Keeping mengatakan tahun ini karhutla di Asia sudah membakar sekitar 44 juta hektare lahan. Angka itu hampir 40 persen lebih tinggi dibanding rekor sebelumnya pada 2024. India, Myanmar, Thailand, Laos, dan China menjadi negara yang paling terdampak karhutla.
Ia memperingatkan risiko karhutla akan semakin tinggi tahun ini karena El Nino diperkirakan meningkatkan kemungkinan panas ekstrem dan kekeringan di Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan hutan hujan Amazon.
“Kemungkinan terjadinya kebakaran ekstrem yang merusak berpotensi menjadi yang tertinggi yang pernah kita lihat dalam sejarah baru-baru ini jika El Nino yang kuat benar-benar berkembang,” katanya.
Bulan lalu, Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan El Nino yang terjadi akibat pemanasan di Samudera Pasifik diperkirakan mulai terjadi pada Mei. El Nino dapat memicu kekeringan di Australia dan Indonesia serta banjir di sebagian wilayah Asia Tenggara.
“Jika tahun ini terjadi El Nino yang kuat, maka ada risiko serius dampak perubahan iklim dan El Nino akan mengakibatkan cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata ilmuwan iklim di Imperial College London dan salah satu pendiri WWA, Friederike Otto.
.png)
1 day ago
10















































