Ekonom: Vietnam Naik Kelas, PMI Indonesia Turun ke Zona Bahaya

9 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ekonom menyoroti positifnya data ekonomi Vietnam, dan membandingkannya dengan kondisi data ekonomi Indonesia. Di saat Vietnam melesat menjadi negara berpendapatan menengah atas, Indonesia justru terjerembab lewat terkoreksinya data Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur.

“Keseluruhan keadaan ekonomi Indonesia bisa diprediksi atau bahkan dipotret dari satu indikator saja, yakni data PMI yang menurun bahkan nyungsep. Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50 persen,” kata Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini dalam keterangannya kepada Republika, dikutip Ahad (5/7/2026). 

Didik menilai, meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, dorongan pemerintah terhadap sektor industri dinilai menurun. Terbukti dari data PMI yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026.

“Sektor Industri Indonesia sudah lama terombang-ambing tidak mempunyai pijakan kebijakan yang jelas. Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi,” jelasnya.

Menurut Didik, selain absen kebijakan industri, dunia usaha menghadapi tekanan biaya karena faktor geopolitik global dan faktor domestik. Ia menilai, dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak ada kebijakan yang jelas, ditambah birokrasi yang masih ruwet dan tidak adanya insentif yang memadai untuk menjadikan industri tumbuh pesat.  

Selain itu, faktor daya beli masyarakat yang menurun, kata dia, juga terjadi karena sektor industri yang mengkerut dan ekonomi secara keseluruhan yang tidak cukup menyediakan kesempatan kerja produktif. Oleh sebab itu, permasalahan tersebut seperti lingkaran setan. 

Ekonomi Vietnam Melesat 

Didik mengomparasikan kondisi ekonomi Indonesia yang kalah dengan Vietnam. Vietnam terus bertransformasi, dan pada akhirnya memperoleh sematan baru sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income country) pada Juli 2026. 

“Berbeda dengan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8 persen, faktor pendukungnya tidak lain adalah sektor industri, yang dikembangkan dua sampai tiga dekade terakhir ini,” ujar Rektor Universitas Paramadina tersebut. 

Ia menjelaskan, Vietnam membuat kebijakan ramah investasi dan membangun sektor industrinya, sehingga ekonomi negara komunis tersebut bertransformasi menjadi negara industri baru. Hasilnya terbukti dari rilis World Bank yang memasukkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas, dengan tingkat pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita mencapai sekitar 4.970 dolar AS, melampaui ambang batas 4.636 dolar AS sebagai negara berpendapatan menengah atas.  

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |